(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ وَالْعِشْرُوْنَ (عَنْ شَقِيْقِ الْبَلْخِيِّ) رَحِمَهُ اللّٰهُ، وَهُوَ أُسْتَاذُ حَاتِمِ الْأَصَمِّ:
Maqolah yang ke dua puluh dua (Dari Syaqiq Al-Balkhi) Rahimahullah. Ia adalah guru dari Hatim Al-Ashom
قِيْلَ كَانَ سَبَبُ تَوْبَتِهِ أَنَّهُ كَانَ مِنْ أَبْنَاءِ الْأَغْنِيَاءِ خَرَجَ لِلتِّجَارَةِ إِلَى أَرْضِ التُّرْكِ فَدَخَلَ بَيْتًا لِلْأَصْنَامِ فَرَأَى خَادِمًا لِلْأَصْنَامِ فِيْهِ قَدْ حُلِقَ رَأْسُهُ وَلِحْيَتُهُ
Dikatakan yang menjadi sebab taubatnya Syaqiq Al-Balkhi adalah sesungguhnya dia menjadi salah satu dari anak orang kaya, dia pergi berdagang ke tanah Turki, kemudian dia memasuki rumah milik berhala dan melihat seorang pelayan milik berhala. di dalamnya benar benar telah dipangkas rambut dari pelayan itu dan janggut dari pelayan itu.
فَقَالَ شَقِيْقٌ لِلْخَادِمِ: إِنَّ لَكَ صَانِعًا حَيًّا عَالِمًا قَادِرًا فَاعْبُدْهُ وَلَا تَعْبُدْ هٰذِهِ الْأَصْنَام الَّتِيْ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ، فَقَالَ: إِنْ كَانَ الْأَمْرُ كَمَا تَقُوْلُ فَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يَرْزُقَكَ بِبَلَدِكَ فَلِمَ تَحَمَّلْتَ الْمَشَقَّةَ إِلَى هَا هُنَا لِلتِّجَارَةِ؟ فَانْتَبَهَ شَقِيْقٌ وَأَخَذَ فِى طَرِيْقِ الزُّهْدِ.
Maka Shaqiq berkata kepada pelayan: Sesungguhnya kamu mempunyai Pencipta yang maha hidup, Maha Mengetahui, dan Mahakuasa, maka sembahlah Dia dan janganlah kamu menyembah berhala-berhala ini yang tidak dapat memberi madarat dan tidak dapat memberi manfaat. Maka pelayan berkata: Jika terbukti itu seperti yang kamu katakan, Maka dzat yang engkau sebut itu mampu memberi rezeki kepadamu di negaramu, jadi mengapa kamu menanggung kesulitan dengan datang ke sini untuk berdagang? Kemudian Shaqiq sadar dan ia menempuh jalan zuhud.
وَقِيْلَ: كَانَ سَبَبُ زُهْدِهِ أَنَّهُ رَأَى مَمْلُوْكًا يَلْعَبُ فِي زَمَانٍ قَحْطٍ وَكَانَ النَّاسُ مَحْزُوْنِيْنَ بِهِ فَقَالَ شَقِيْقٌ: مَا هَذَا النَّشَاطُ الَّذِيْ فِيْكَ أَمَّا تَرَى مَا فِيْهِ النَّاسُ مِنَ الجَدْبِ؟ فَقَالَ ذٰلِكَ الْمَمْلُوْكُ: وَمَا عَلَيَّ مِنْ ذٰلِكَ وَلِمَوْلَايَ قَرْيَةٌ خَالِصَةٌ يَدْخُلُ لَهُ مِنْهَا مَا نَحْتَاجُ نَحْنُ إِلَيْهِ.
Dikatakan: Yang menjadi sebab zuhudnya adalaha sesungguhnya ia melihat seorang budak yang bermain pada musim kemarau dan manusia menjadi disedihkan karena musim kemarau kemudian Syaqiq berkata: Kenapa kesenangan ini ada pada dirimu tidakkah kamu melihat kesusahan-kesusahan yang ada di dalam kesusahan itu manusia karena kekeringan ? Kemudian budak itu berkata: Dan kesalahan apa yang ada padaku dari bersenang senang sedangkan adalah milik tuanku desa yang murni yang masuk miliknya ke dalam desa apa yang kami butuhkan darinya.
فَانْتَبَهَ شَقِیْقٌ وَقَالَ: إِنْ كَانَ لِمَوْلَاهُ قَرْيَةٌ وَمَوْلَاهُ مَخْلُوْقٌ فَقِيْرٌ ثُمَّ إِنَّهُ لَیْسَ يَهْتَمُّ لِرِزْقِهِ فَكَيْفَ يَلِيْقُ أَنْ يَهْتَمَّ الْمُسْلِمُ لِرِزْقِهِ وَمَوْلَاهُ غَنِيٌّ.
Kemudian Shaqiq sadar dan berkata: Jika tuannya mempunyai desa sementara tuannya adalah makhluk yang fakir kemudian sesungguhnya budak itu tidak gelisah pada rizkinya, maka apakah pantas seorang muslim gelisah pada rizkinya sementara tuannya adalah dzat yang maha kaya.
(أَنَّهُ قَالَ: عَلَيْكُمْ بِخَمْسِ خِصَالٍ) أَيْ اِلْزَمُوْهَا (فَاعْمَلُوْهَا) وَهٰذَا تَرْغِيْبٌ وَتَرْهِيْبٌ (اُعْبُدُوْا اللّٰهَ بِقَدْرِ حَاجَتِكُمْ إِلَيْهِ) وَطَلَبِكُمْ مِنْهُ إِلَى إِحْسَانِهِ وَإِفْضَالِهِ
(Sesungguhnya Syaqiq berkata: Wajib atas kalian lima perkara) Maksudnya lalzimkanlah oleh kalian lima perkara ini (Maka amalkanlah oleh kalian lima perkara ini) Dan ini adalah mendorong dan memperingati (Beribadahlah kalian kepada Allah dengan batas kebutuhan kalian kepadanya) Dan dengan batas permintaan kalian darinya kepada kebaikannya dan karunianya.
(وَخُذُوْا مِنَ الدُّنْيَا) أَيْ مِنْ مَتَاعِهَا (بِقَدْرِ عُمْرِكُمْ) أَيْ حَيَاتِكُمْ وَبَقَائِكُمْ (فِيْهَا، وَأَذْنِبُوْا اللّٰهَ) أَيْ عَامِلُوْا مَعَ اللّٰهِ بِالذَّنْبِ (بِقَدْرِ طَاقَتِكُمْ عَلَى عَذَابِهِ) فَلَا طَاقَةَ لِأَحَدٍ عَلَى تَحَمُّلِ عَذَابِ اللّٰهِ تَعَالَى فَإِنَّ عَذَابَهُ شَدِيْدٌ
(Dan ambillah oleh kalian dari dunia) Maksudnya dari kesenangan dunia (Dengan sebatas umur kalian) Maksudnya sebatas hidupmu dan sisa hidupmu (Di dunia, Dan berbuat dosalah kalian kepada Allah) Maksudnya beramallah kalian terhadap Allah dengan sebuah dosa (Dengan sebatas kemampuan kalian atas adzabnya Allah) Maka tidak ada yang sanggup bagi seseorang untuk menanggung adzabnya Allah karena sesungguhnya adzab Allah itu sangatlah berat
(وَتَزَوَّدُوْا فِى الدُّنْيَا) أَيْ اِتَّخِذُوْا فِيْهَا زَادًا لِسَفَرِكُمْ إِلَى الْآخِرَةِ (بِقَدْرِ مُكْثِكُمْ فِى الْقَبْرِ) أَيْ وَمَا بَعْدَهُ، وَإِنَّمَا ذُكِرَ الْقَبْرُ لِأَنَّهُ أَوَّلُ أُمُوْرِ الْآخِرَةِ فَإِذَا خُفِّفَ فِيْهِ خُفِّفَ فِيْمَا بَعْدَهُ وَإِذَا شُدِّدَ فِيْهِ شُدِّدَ فِيْمَا بَعْدَهُ
(Dan berbekallah kalian di dunia) Maksudnya ambillah oleh kalian di dunia bekal untuk perjalanan kalian menuju akhirat (Dengan sebatas lamanya kalian tinggal di dalam qubur) Maksudnya dan tempat sesudah qubur, Dan sesungguhnya hanya disebutkan qubur karena qubur merupakan awal dari urusan akhirat maka jika diringankan di dalamnya pasti akan ringan di tempat sesudahnya dan jika diberatkan di dalamnya maka pasti akan diberatkan di tempat sesudahnya.
(وَاعْمَلُوْا لِلْجَنَّةِ) أَيْ اِعْمَلُوْا عَمَلًا يُؤَدِّيْ إِلَى الْجَنَّةِ (بِقَدْرِ مَا تُرِيْدُوْنَ فِيْهَا الْمَقَامَ) بِفَتْحِ الْمِيْمِ: أَيْ اَلْمَنْزِلَةَ وَالْمَرْتَبَةَ، فَإِنَّ مَرَاتِبَ أَهْلِ الْجَنَّةِ مُتَفَاوِتَةٌ بِحَسْبِ أَعْمَالِهِمُ الْحَسَنَةِ إِنْ كَانَتْ أَحْسَنَ فَجَزَاؤُهَا أَلْطَفُ بِفَضْلِ اللّٰهِ تَعَالَى.
(Dan beramallah kalian untuk surga) Maksudnya kerjakanlah oleh kalian amalan yang dapat menghantar menuju surga (Dengan sebatas perkara yang kalian maksud di dalamnya kedudukan) Lafadz الْمَقَامَ dengan memfathahkan mim: Maksudnya kedudukan dan derajat. Karena sesungguhnya tingkatan-tingkatan ahli surga itu berbeda-beda dengan hitungan amalan mereka yang baik jika terbukti amalan itu lebih baik maka balasannya itu lebih lembut dengan keutamaan dari Allah.
وَعَنْ شَقِيْقٍ اَلْبَلْخِيِّ أَنَّهُ قَالَ: طَلَبْنَا خَمْسًا فَوَجَدْنَاهَا فِى خَمْسٍ: طَلَبْنَا تَرْكَ الذُّنُوْبِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ الضُّحَى، وَطَلَبْنَا ضِيَاءَ الْقُبُوْرِ فَوَجَدْنَاهُ فِى صَلَاةِ اللَّيْلِ، وَطَلَبْنَا جَوَابَ مُنْكَرٍ وَنَكِيْرٍ فَوَجَدْنَا فِى قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ
Dan dari Syaqiq Al-Balkhi sesungguhnya ia berkata: Kami mencari lima perkara kemudian kami menemukan lima perkara itu di dalam lima perkara lain: Kami mencari cara meninggalkan dosa kemudian kami menemukannya di dalam sholat dhuha, dan kami mencari cahaya qubur kemudian kami menemukannya di dalam sholat malam dan kami mencari jawaban munkar dan nakir kemudian kami temukan dalam bacaan quran.
وَطَلَبْنَا عُبُوْرَ الصِّرَاطِ فَوَجَدْنَاهُ فِى الصَّوْمِ وَالصَّدَقَةِ، وَطَلَبْنَا ظِلَّ الْعَرْشِ فَوَجَدْنَاهُ فِى الْخَلْوَةِ.
Dan kami mencari kelancaran melewati sirot kemudian kami menemukannya di dalam puasa dan sedekah dan kami mencari naungan arsy kemudian kami menemukannya dalam berkhalwat.
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi