(وَ) الْمَقَالَةُ الْعِشْرُوْنَ (قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [يَنْبَغِي) أَيْ يُطْلَبُ (لِلدَّاخِلِ فِي الْمَسْجِدِ عَشْرُ خِصَالٍ: أَوَّلُهَا: أَنْ يَتَعَاهَدَ خُفَّيْهِ أَوْ نَعْلَيْهِ) أَيْ يَحْفَظَهُمَا مِنَ النَّجَاسَةِ لِئَلَّا تَقَعَ فِي الْمَسْجِدِ
Maqolah yang kedua puluh (Telah bersabda Nabi ﷺ: [Selayaknya) Maksudnya dituntut (Bagi orang yang masuk masjid sepuluh perkara: Yang pertama dari sepuluh perkara itu: Adalah hendaknya dia menjaga kedua sepatunya atau kedua sendalnya) Maksudnya menjaga keduanya dari najis-najis supaya tidak jatuh di masjid
(وَأَنْ يَبْدَأَ بِرِجْلِهِ الْيُمْنَى) عِنْدَ دُخُوْلِ الْمَسْجِدِ وَكُلِّ مَحَلٍّ شَرِيْفٍ وَمَا جَهِلَ حَالَهُ وَأَنْ يَنْزِعَ نَعْلَهُ الْيُسْرَى أَوَّلًا عِنْدَ وُصُوْلِهِ بَابَ الْمَسْجِدِ وَيَحُطَّ رِجْلَهُ الْيُسْرَى عَلَى ظَهْرِهَا ثُمَّ يَنْزِعَ نَعْلَهُ الْيُمْنَى.
(Dan hendaknya dia mendahulukan dengan kakinya yang kanan) Ketika masuk masjid dan ketika masuk setiap tempat yang mulia dan tempat yang dia tidak tahu keadaannya dan hendaknya dia melepas sendalnya yang kiri pertama kali ketika dia sampai di pintu masjid dan hendaknya dia menurunkan kakinya yang kiri di atas punggung sendalnya kemudian dia melepas sendalnya yang kanan
(وَ) الثَّانِي (أَنْ يَقُوْلَ إذَا دَخَلَ) أَيْ أَرَادَ الدُّخُوْلَ: أَعُوْذُ بِاللّٰهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ
(Dan) Yang kedua (Hendaknya dia berucap ketika masuk) Maksudnya ketika ingin masuk: Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, dengan Dzat-Nya yang maha mulia, dan dengan kekuasaan-Nya yang maha kekal, dari setan yang terkutuk. Segala puji adalah milik Allah. Ya Allah, limpahkanlah tambahan rahmat kepada Nabi Muhammad, kepada keluarga Nabi Muhammad, dan kepada para sahabatnya
(بِسْمِ اللّٰهِ وَسَلَامٌ عَلَى رَسُوْلِ اللّٰهِ وَعَلَى مَلَائِكَةِ اللّٰهِ، اللّٰهُمَّ افْتَحْ لَنَا أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ إنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) أَوْ يَقُوْلُ: اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِيْ ذُنُوْبِيْ وَافْتَحْ لِيْ أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ، ثُمَّ يَقُوْلُ بِسْمِ اللّٰهِ.
(Dengan nama Allah, dan kesejahteraan semoga tercurah kepada Rasulullah dan kepada para malaikat Allah. Ya Allah, bukakanlah untuk kami pintu-pintu rahmat-Mu, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi karunia.) Atau berucap: Ya Allah ampunilah untukku dosa-dosaku dan bukakanlah untukku pintu-pintu rahmatmu kemudian berucap: Bismillah
(وَ) الثَّالِثُ (أَنْ يُسَلِّمَ عَلَى أَهْلِ الْمَسْجِدِ وَأَنْ يَقُوْلَ إذَا لَمْ يَكُنْ فِيْهِ) أَيْ اَلْمَسْجِدِ (أَحَدٌ: اَلسَّلَامُ عَلَيْنَا وَعَلَى عِبَادِ اللّٰهِ الصَّالِحِيْنَ).
(Dan) Yang ketiga (Hendaknya dia mengucapkan salam kepada ahli masjid dan hendaklah mengucapkan ketika tidak ada di dalamnya) Maksudnya di dalam Masjid (Seorangpun: Semoga keselamatan kepada kita dan kepada hamba-hamba Allah yang sholeh)
(وَ) الرَّابِعُ (أَنْ يَقُوْلَ: أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اَللّٰهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللّٰهِ).
(Dan) Yang keempat (Hendaknya dia mengucapkan: Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad Adalah utusan Allah)
(وَ) الْخَامِسُ (أَنْ لَا يَمُرَّ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي) فَيَحْرُمُ الْمُرُوْرُ بَيْنَ يَدَيِ الْمُصَلِّي وَسُتْرَتِهِ فِى صَلَاةٍ صَحِيْحَةٍ فِى اعْتِقَادِ الْمُصَلِّي وَلَوْ نَفْلًا وَإِنْ لَمْ يَجِدِ الْمَارُّ طَرِيْقًا آخَرَ حَيْثُ لَمْ يُقَصِّرِ الْمُصَلِّي
(Dan) Yang kelima (Hendaknya dia tidak melewati didepan orang yang sedang sholat) Karena haram lewat di depan orang yang sedang sholat dan di depan pembatasnya, dalam shalat yang sah menurut keyakinan orang yang sholat walaupun shalat sunnah dan meskipun tidak mendapati orang yang ingin lewat pada jalan yang lain sekiranya tidak lalai orang yang sholat tersebut.
وَيَجُوْزُ الْمُرُوْرُ إذَا اضْطَرَّ إلَيْهِ لِإِنْقَاذِ نَحْوِ غَرِيْقٍ عَلَى الْمُعْتَمَدِ، بَلْ نَقَلَ الْإِمَامُ عَنِ الْأَئِمَّةِ جَوَازَهُ إنْ لَمْ يَجِدْ طَرِيْقًا، وَهَذَا ضَعِيْفٌ.
Dan boleh lewat jika terpaksa atas orang tersebut untuk menyelamatkan seumpama orang yang tenggelam menurut pendapat yang dapat diandalkan, bahkan telah menukil seorang imam dari para Imam bolehnya lewat jika dia tidak menemukan jalan lain, dan pendapat ini lemah.
أَمَّا إنْ قَصَّرَ الْمُصَلِّي بِأَنْ صَلَّى فِى مَحَلٍّ يَغْلِبُ فِيْهِ الْمُرُوْرُ ذٰلِكَ الْوَقْتَ كَالْمَطَافِ أَوْ تَرَكَ فُرْجَةً فِى صَفٍّ قُدَّامَهُ فَاحْتِيْجَ لِلْمُرُوْرِ بَيْنَ يَدَيْهِ لِسَدِّهَا فَلَا يَحْرُمُ وَإِنْ تَعَدَّدَتِ الصُّفُوْفُ.
Adapun jika lalai orang yang shalat dengan cara dia shalat di tempat yang pada umumnya di tempat tersebut sering dilewati pada waktu itu seperti di tempat thawaf atau dia meninggalkan celah dalam shaf di depannya sehingga diperlukan untuk lewat di depan orang yang sholat tersebut untuk menutup celah tersebut, maka tidak haram meskipun berjumlah banyak shaf-shaf shalat.
(وَ) السَّادِسُ (أَنْ لَا يَعْمَلَ) فِى الْمَسْجِدِ (بِعَمَلِ الدُّنْيَا) كَأَنْ يَبِيْعَ أَوْ يَشْتَرِيَ، وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ رُؤْيَةِ ذٰلِكَ: لَا أَرْبَحَ اللّٰهُ تِجَارَتَكَ.
(Dan) yang keenam, (hendaknya dia tidak melakukan) di dalam masjid (Dengan pekerjaan duniawi) semisal dia menjual atau membeli. Dan disunnahkan untuk mengatakan ketika melihat itu: "Semoga Allah tidak memberi keuntungan pada perdaganganmu."
(وَ) السَّابِعُ (أَنْ لَا يَتَكَلَّمَ بِكَلَامِ الدُّنْيَا) كَنَشْدِ ضَالَّةٍ وَيُسَنُّ أَنْ يَقُوْلَ عِنْدَ سَمَاعِ ذٰلِكَ: لَا رَدَّهَا اللّٰهُ عَلَيْكَ.
(Dan) yang ketujuh (hendaknya dia tidak berbicara dengan pembicaraan duniawi) seperti mencari barang hilang. Dan disunnahkan untuk mengatakan ketika mendengar itu: "Semoga Allah tidak mengembalikannya kepadamu."
(وَ) الثَّامِنُ (أَنْ لَا يَخْرُجَ) وَلَا يَجْلِسَ (حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ) لَكِنْ إذَا دَخَلْتَ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ وَأَرَدْتَ الطَّوَافَ فَالْأَفْضَلُ أَنْ تَبْدَأَ بِالطَّوَافِ ثُمَّ تَنْوِي بِالرَّكْعَتَيْنِ سُنَّةَ الطَّوَافِ وَتَحِيَّةَ الْمَسْجِدِ مَعًا.
(Dan) yang kedelapan (hendaknya dia tidak keluar) dan tidak duduk (sampai dia shalat dua rakaat). Tetapi jika kamu masuk ke Masjidil Haram dan kamu ingin melakukan tawaf, maka yang lebih utama adalah hendaknya kamu memulai dengan tawaf kemudian berniat dengan dua rakaat sunnah tawaf dan tahiyatul masjid sekaligus.
(وَ) التَّاسِعُ (أَنْ لَا يَدْخُلَ إلَّا بِوُضُوْءٍ) وَيُنْدَبُ لِمَنْ لَمْ يَأْتِ بِالتَّحِيَّةِ أَنْ يَقُوْلَ أَرْبَعَ مَرَّاتٍ سُبْحَانَ اللّٰهِ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ وَلَا إلَهَ إلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ، فَتَنْدَفِعُ الْكَرَاهَةُ بِذٰلِكَ، وَهٰذَا حَيْثُ لَمْ يَتَيَسَّرْ لَهُ الْوُضُوْءُ فِى الْمَسْجِدِ قَبْلَ طُوْلِ الْفَصْلِ وَإِلَّا فَلَا يَكْفِي ذٰلِكَ لِتَقْصِيْرِهِ بِتَرْكِ الْوُضُوْءِ مَعَ تَيَسُّرِهِ.
(Dan) yang kesembilan (hendaknya dia tidak masuk kecuali dengan wudhu). Dan disunnahkan bagi siapa yang tidak melaksanakan tahiyatul masjid untuk mengatakan empat kali: "Subhanallah, Alhamdulillah, La ilaha illallah, Allahu Akbar," maka terhindar kemakruhan karena itu. Dan ini sekiranya tidak memungkinkan baginya wudhu di dalam masjid sebelum lama terpisah, kalau tidak maka tidak cukup membacca itu karena kelalaiannya meninggalkan wudhu padahal memungkinkan baginya.
(وَ) الْعَاشِرُ (أَنْ يَقُوْلَ إذَا قَامَ: سُبْحَانَك اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ)
(Dan) yang kesepuluh (hendaknya dia mengatakan ketika berdiri: "Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu.")
رَوَى التِّرْمِذِيُّ عَنْ رَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [مَنْ جَلَسَ فِى مَجْلِسٍ وَكَثُرَ فِيْهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُوْمَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذٰلِكَ: سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوْبُ إلَيْكَ إلَّا غَفَرَ اللّٰهُ لَهُ مَا كَانَ فِى مَجْلِسِهِ ذَلِكَ].
Telah meriwayatkan Imam Tirmidzi dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda: ["Barangsiapa yang duduk di suatu majelis dan banyak di dalamnya keramaian, lalu dia berkata sebelum berdiri dari majelisnya itu: 'Maha Suci Engkau ya Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Engkau, aku memohon ampunan-Mu dan aku bertaubat kepada-Mu', melainkan Allah akan mengampuni baginya dosa-dosa yang ada di majelisnya tersebut."]
وَرُوِيَ عَنْ عَلِيٍّ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَكْتَالَ بِالْمِكْيَالِ الْأَوْفَى فَلْيَقُلْ آخِرَ مَجْلِسِهِ أَوْ حِيْنَ يَقُوْمُ: ﴿سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ١٨٠ وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ ١٨١ وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ١٨٢﴾ [الصافات: الآيات ١٨٢ ، ١٨٠].
Dan diriwayatkan dari Ali bahwa dia berkata: "Barangsiapa yang ingin mendapatkan timbangan dengan timbangan yang penuh, hendaklah ia mengucapkan di akhir majelisnya atau ketika ia berdiri: Mahasuci Tuhanmu, Tuhan pemilik kemuliaan dari apa yang mereka sifatkan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul pembawa risalah. dan segala puji adalah milik Allah Tuhan seluruh alam." [QS. As-Saffat: Ayat 180-182]
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi