(وَ) الْمَقَالَةُ السَّابِعَةَ عَشْرَةَ (قِيْلَ: جَمَعَ بَعْضُ الْمُلُوْكِ خَمْسَةً مِنَ الْحُكَمَاءِ فَأَمَرَهُمْ أَنْ يَتَكَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِحِكْمَتَيْنِ فَتَكَلَّمَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ بِحِكْمَتَيْنِ فَصَارَتْ) أَيْ جُمْلَةُ الْحِكَمِ مِنَ الْخَمْسَةِ أَشْخَاصٍ (عَشَرَةً،
Maqolah yang ketujuh belas (Dikatakan: Sebagian dari para raja mengumpulkan lima orang dari kalangan para hukama, lalu raja tersebut memerintahkan mereka agar berbicara masing-masing dari mereka dengan dua hikmah, maka setiap orang dari mereka berbicara dua hikmah sehingga jadilah jumlahnya) Maksudnya jumlah kebijaksanaan dari lima orang tersebut (menjadi sepuluh,
فَقَالَ الْأَوَّلُ) مِنْهُمْ (خَوْفُ الْخَالِقِ) جَلَّ وَعَلَا (أَمْنٌ) أَيْ سَلَامَةٌ مِنَ الْمَخَاوِفِ (وَأَمْنُهُ) أَيْ عَدَمُ الْخَوْفِ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى (كُفْرٌ، وَأَمْنُ الْمَخْلُوْقِ عِتْقٌ) أَيْ عَدَمُ الْخَوْفِ مِنَ الْمَخْلُوْقِ خُرُوْجٌ عَنْ خِدْمَتِهِ (وَخَوْفُهُ) أَيْ الْمَخْلُوْقِ (رِقٌّ) أَيْ عَبْدٌ لَهُ.
Maka berkata yang pertama) dari mereka (Takut kepada Sang Pencipta) Yang Maha Agung dan maha luhur (adalah keamanan) Maksudnya adalah keselamatan dari segala ketakutan (dan merasa aman dari-Nya) Maksudnya tidak takut kepada Allah Ta'ala (adalah kekufuran. Merasa aman dari makhluk adalah kemerdekaan) Maksudnya tidak adanya rasa takut kepada makhluk merupakan kebebasan dari melayaninya (dan takut kepadanya) Maksudnya kepada makhluk (adalah perbudakan) yaitu menjadi hamba baginya.
(وَقَالَ الثَّانِي: اَلرَّجَاءُ مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى غِنًى لَا يَضُرُّهُ فَقْرٌ وَالْيَأْسُ عَنْهُ) أَيْ قَطْعُ الرَّجَاءِ عَنِ اللّٰهِ تَعَالَى (فَقْرٌ لَا يَنْفَعُ مَعَهُ غِنًى)
(Dan berkata yang kedua: Harapan kepada Allah Ta'ala adalah kekayaan yang tidak akan membahayakannya kemiskinan, dan putus asa darinya) Maksudnya memutuskan harapan dari Allah Ta'ala (adalah kemiskinan yang tidak akan berguna bersamanya kekayaan)
قَالَ ذُو النُّوْنِ الْمِصْرِيُّ: مَنْ قَنِعَ اِسْتَرَاحَ مِنْ أَهْلِ زَمَانِهِ وَاسْتَطَالَ عَلَى أَقْرَانِهِ، وَقِيْلَ: مَنْ تَبِعَتْ عَيْنَاهُ مَا فِى أَيْدِي النَّاسِ طَالَ حُزْنُهُ.
Telah berkata Dzun-Nun al-Mishri: Barangsiapa yang mempunyai sifat qona'ah, ia akan beristirahat dari orang-orang di zamannya dan akan lebih unggul di atas teman-temannya, dan dikatakan: Barangsiapa yang kedua matanya mengikuti pada apa yang ada di tangan orang lain maka akan menjadi berkepanjangan kesedihannya.
وَأَنْشَدَ بَعْضُهُمْ مِنْ بَحْرِ الْوَافِرِ فَقَالَ:
Dan sebagian dari ulama menyenandungkan syair dari Bahr Wafir:
| يَنَالُ بِهِ الْغِنَى كَىرْمٌ وَجُوْعٌ | * | وَأَحْسِنْ بِالْفَتَى مِنْ يَوْمِ عَارٍ |
| Duhai alangkah baiknya seorang pemuda ketika hari mendapatkan aib | * | Dia dapat memperoleh dengannya kekayaan, kemulyaan dan lapar |
(وَقَالَ الثَّالِثُ: لَا يَضُرُّ مَعَ غِنَى الْقَلْبِ) وَهُوَ الْقَنَاعَةُ (فَقْرُ الْكِيْسِ) أَيْ عَدَمُ الْمَالِ فِى يَدِهِ (وَلَا يَنْفَعُ مَعَ فَقْرِ الْقَلْبِ) وَهُوَ الطَّمَعُ (غِنَى الْكِيْسِ) أَيْ كَثْرَةُ الْمَالِ فِى قَبْضَتِهِ.
(Dan berkata yang ketiga: Tidak akan membahayakan bersama kekayaan hati) yaitu qonaah (kemiskinan kantong) Maksudnya ketiadaan uang di tangannya (dan tidak akan bermanfaat bersama kemiskinan hati) yaitu ketamakan (kekayaan kantong) Maksudnya banyaknya harta dalam genggamannya.
قَالَ وَهْبٌ: إِنَّ الْعِزَّ وَالْغِنَى خَرَجَا يَجُوْلَانِ يَطْلُبَانِ رَفِيْقًا فَلَقِيَا الْقَنَاعَةَ فَاسْتَقَرَّا، وَفِى الزَّبُوْرِ: اَلْقَانِعُ غَنِيٌّ وَإِنْ كَانَ جَائِعًا.
Telah berkata Wahb: Sesungguhnya kemuliaan dan kekayaan keduanya keluar mencari teman, lalu mereka bertemu dengan qona''ah kemudian menjadi tenanglah keduanya, dan di dalam kitab Zabur disebutkan: Orang yang qona'ah itu kaya walaupun dia lapar.
(وَقَالَ الرَّابِعُ: لَا يَزْدَادُ غِنَى الْقَلْبِ مَعَ الْجُوْدِ إِلَّا غِنًى) وَحَقِيقَةُ الْجُوْدِ أَنْ لَا يَصْعُبَ عَلَيْهِ الْبَذْلُ
(Dan berkata yang keempat: Tidaklah bertambah kekayaan hati bersama kedermawanan kecuali semakin bertambah kaya) dan hakikat kedermawanan adalah tidak merasa sulit atas seseorang dalam memberi
(وَلَا يَزْدَادُ فَقْرُ الْقَلْبِ مَعَ غِنَى الْكِيْسِ إِلَّا فَقْرًا) قَالَ الدَّقَّاقُ: مَنْ لَمْ يَصْحَبْهُ التُّقَى فِى فَقْرِهِ أَكَلَ الْحَرَامَ الْمَحْضَ
(Dan tidaklah bertambah kemiskinan hati bersama kekayaan kantong kecuali semakin bertambah miskin) Telah berkata ad-Daqqaq: Barangsiapa yang tidak menyertai ketaqwaan dalam kemiskinannya, maka ia akan memakan perkara haram yang murni.
(وَقَالَ الْخَامِسُ: أَخْذُ الْقَلِيْلِ مِنَ الْخَيْرِ خَيْرٌ مِنْ تَرْكِ الْكَثِيْرِ مِنَ الشَّرِّ وَتَرْكُ الْجَمِيْعِ مِنَ الشَّرِّ خَيْرٌ مِنْ أَخْذِ الْقَلِيْلِ مِنَ الْخَيْرِ)
(Dan berkata yang kelima: Mengambil yang sedikit dari kebaikan itu lebih baik daripada meninggalkan yang banyak dari keburukan, dan meninggalkan semua dari keburukan itu lebih baik daripada mengambil sedikit dari kebaikan)
هٰذَا قَرِيْبٌ مِنْ قَوْلِ بَعْضِ الْأَطِبَّاءِ: اَلرُّمَّانُ خَيْرٌ كُلُّهُ وَالْحُوْتُ شَرٌّ كُلُّهُ فَأَكْلُ الْقَلِيْلِ مِنَ الْحُوْتِ خَيْرٌ مِنْ أَكْلِ الْكَثِيْرِ مِنَ الرُّمَّانِ.
Ini mirip dengan perkataan sebagian tabib: Buah delima itu semuanya baik, dan ikan paus itu semuanya buruk, maka memakan sedikit dari ikan paus itu lebih baik daripada memakan banyak dari buah delima.
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi