(وَ) الْمَقَالَةُ التَّاسِعَةُ (قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: عَشَرَةُ خِصَالٍ يُبْغِضُهَا اللّٰهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى مِنْ عَشَرَةِ أَنْفُسٍ) أَيْ أَكْثَرُ بُغْضًا مِنْ غَيْرِهِمْ
Maqolah yang kesembilan (Telah berkata sebagian dari para hukama: Ada sepuluh perkara yang Allah Subanahu Wata'ala membencinya dari sepuluh orang) Maksudnya yang paling dibenci dari pada selain sepuluh orang tersebut
1.
Sepuluh perkara ini adalah sifat-sifat tercela yang dibenci oleh Allah, dan jika dilakukan oleh sepuluh jenis orang berikut ini, maka hal itu lebih dibenci oleh Allah.
(الْبُخْلُ مِنْ الْأَغْنِيَاءِ) قَالَ حَكِيْمٌ: اَلْبُخْلُ مَحْوُ صِفَاتِ الْإِنْسَانِيَّةِ وَإِثْبَاتُ عَادَاتِ الْحَيَوَانِيَّةِ
(Kikir dari kalangan orang-orang kaya) Telah berkata Hakim: Pelit itu menghapus sifat-sifat kemanusiaan dan pelit itu menetapkan kebiasaan-kebiasaan kebinatangan.
(وَالْكِبْرُ مِنَ الْفُقَرَاءِ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللّٰهِ ﷺ قَالَ: [إذَا قَالَ الرَّجُلُ هَلَكَ النَّاسُ فَهُوَ أَهْلَكُهُمْ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ. وَالرِّوَايَةُ الْمَشْهُورَةُ بِرَفْعِ كَافِ أَهْلَكُهُمْ وَرُوِيَ بِنَصْبِهَا،
(Dan sombong dari kalangan orang-orang fakir) Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Jika seseorang berkata manusia telah binasa maka dialah orang yang paling binasa di anatar mereka] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Muslim. Dan riwayat yang paling masyhur adalah dengan merofakan huruf ك pada lafadz أهلكهم dan diriwayatkan pula dengan menashobkannya
وَهٰذَا النَّهْيُ لِمَنْ قَالَ ذٰلِكَ عَجَبًا بِنَفْسِهِ وَتَصَاغُرًا لِلنَّاسِ وَارْتِفَاعًا عَلَيْهِمْ فَهٰذَا هُوَ الْحَرَامُ ، وَأَمَّا مَنْ قَالَهُ لِمَا يَرَى فِى النَّاسِ مِنْ نَقْصٍ فِى أَمْرِ دِينِهِمْ وَقَالَهُ تَحَزُّنًا عَلَيْهِمْ وَعَلَى الدِّينِ فَلَا بَأْسَ بِهِ، هَكَذَا فَسَّرَهُ الْعُلَمَاءُ.
Dan larangan ini bagi orang yang mengatakan hal itu karena ujub pada dirinya dan karena merendahkan manusia dan karena merasa lebih tinggi atas mereka maka ini adalah haram. Adapun orang yang mengatakan hal itu karena apa yang dia lihat di kalangan manusia karena kekurangan dalam urusan agama mereka dan dia mengucapkannya karena prihatin kepada mereka dan atas agama maka tidak apa apa mengucapkannya. Demikian ini telah menafsirkannya para ulama
(وَالطَّمَعُ مِنَ الْعُلَمَاءِ) قِيْلَ لَمَّا نَطَقَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ بِذِكْرِ الطَّمَعِ فَقَالَ: ﴿لَوْ شِئْتَ لَنَخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا﴾ [الْكَهْفِ: الْآيَةُ ٧٧] قَالَ الْخَضِرُ لَهُ: ﴿هَذَا فِرَاقُ بَيْنِيْ وَبَيْنِكَ﴾ [الكَهْفِ: الْآيَةُ ٧٨]
(Dan serakah dari kalangan ulama) Dikatakan ketika berucap Nabi Musa Alaihis Salam dengan mengungkapkan rasaa tamak dengan berkata ﴾Seandainya engkau hendaki niscaya engkau mengambil atas hal itu upah﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 77] Berkata Nabi Khidir kepada Nabi Musa ﴾Ini adalah perpisahan antara diriku dan dirimu﴿ [Q.S Al-Kahfi: Ayat 78]
وَقِيْلَ لَمَّا قَالَ ذٰلِكَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَقَفَ بَيْنَ يَدَيْهِمَا ظَبْيٌ وَكَانَا جَائِعَيْنِ، الْجَانِبُ الَّذِي يَلِي مُوسَى غَيْرُ مَشْوِيٍّ وَالْجَانِبُ الَّذِي يَلِي الْخَضِرَ مَشْوِيٌّ.
Dan dikatakan ketika Nabi Khidir mengatakan itu kepada Nabi Musa Alaihis Salam maka berdiri di hadapan keduanya seekor kijang dan keduanya sedang lapar. Bagian yang didekat Nabi Musa tidak dipanggang sedangkan bagian yang didekat Nabi Khidir sudah dipanggang.
(وَقِلَّةُ الْحَيَاءِ مِنَ النِّسَاءِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَيَاءٌ فَلَا دِيْنَ لَهُ، وَمَنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ حَيَاءٌ فِى الدُّنْيَا لَمْ يَدْخُلِ الْجَنَّةَ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan sedikitnya rasa malu dari kalangan wanita) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang tidak ada padanya sifat malu maka tidak ada agama baginya, Dan barang siapa yang tidak ada padanya sifat malu di dunia maka dia tidak akan masuk surga] Tela meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
(وَحُبُّ الدُّنْيَا مِنَ الشُّيُوْخِ) قَالَ أَبُو بَكْرٍ الْمَرَاغِيُّ: اَلْعَاقِلُ مَنْ دَبَّرَ أَمْرَ الدُّنْيَا بِالْقَنَاعَةِ وَالتَّسْوِيْفِ وَأَمْرَ الْآخِرَةِ بِالْحِرْصِ وَالتَّعْجِيْلِ وَأَمْرَ الدِّينِ بِالْعِلْمِ وَالْاِجْتِهَادِ.
(Dan cinta dunia dari kalangan orang yang sudah tua) Telah berkata Abu Bakar al-Marogi: Orang yang berakal adalah orang yang mengatur urusan dunia dengan qona'ah dan penundaan dan mengatur urusan akhirat dengan semangat dan bersegera dan mengatur urusan agama dengan ilmu dan bersungguh sungguh.
(وَالْكَسَلُ) فِى الْأَعْمَالِ (مِنَ الشُّبَّانِ وَالْجَوْرِ مِنَ السُّلْطَانِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ أَرْضَى سُلْطَانًا بِمَا يُسْخِطُ رَبَّهُ خَرَجَ مِنْ دِيْنِ اللّٰهِ تَعَالَى] رَوَاهُ الْحَاكِمُ .
(Dan malas) Dalam beramal (Dari kalangan pemuda dan ketidak adilan dari kalangan raja) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang membuat ridho hati seorang raja dengan cara yang membuat tuhannya murka maka dia keluar dari agam Allah Ta'ala]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Hakim
(وَالْجُبْنُ مِنَ الْغُزَاةِ) وَهُوَ ضَعْفُ الْقَلْبِ يُحْجِمُ بِهِ عَنْ لِقَاءِ الْعَدُوِّ
(Dan sifat penakut dari kalangan pejuang) Yaitu kelemahan hati yang membuat dia mundur sebab takut dari bertemu musuh
(وَالْعُجْبُ مِنَ الزُّهَّادِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ حَمِدَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ صَالِحٍ فَقَدْ ضَلَّ شُكْرُهُ وَحَبِطَ عَمَلُهُ] رَوَاهُ أَبُو نُعَيْمٍ.
(Dan ujub dari kalangan ahli zuhud) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang memuji pada dirinya atas amal sholeh maka benar-benar telah hilang syukurnya dan terhapus pahala amalnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nuaim
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا مِنْ أَحَدٍ يَلْبَسُ ثَوْبًا لِيُبَاهِيَ بِهِ فَيَنْظُرُ النَّاسُ إلَيْهِ إلَّا لَمْ يَنْظُرِ اللّٰهُ إلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَنْزِعَهُ مَتَى مَا نَزَعَهُ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ .
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah seorangpun yang mengenakan pakaian untuk berbangga-bangga dengan pakaian itu sehingga manusia melihat kepadanya melainkan Allah tidak akan mlihat kepadanya pada hari kiamat sehingga dia melepas pakaian itu kapanpun dia melepasnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam at-Thobroni
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [وَيْحَ ابْنِ آدَمَ كَيْفَ يَزْهُو وَإِنَّمَا هُوَ جِيْفَةٌ يُؤْذِي مَنْ مَرَّ بِهِ ابْنُ آدَمَ مِنَ التُّرَابِ خُلِقَ وَإِلَيْهِ يَصِيْرُ] رواه الديلمي.
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Celakalah anak adam. Bagaimana dia bisa menyombongkan diri padahal sesungguhnya dia hanyalah bangkai yang mengganggu orang-orang yang melewatinya. Anak adam itu dari tanah dia diciptakan dan kepada tanah dia akan kembali] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
(وَالرِّيَاءُ مِنَ الْعِبَادِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إيَّاكُمْ أَنْ تَخْلِطُوْا طَاعَةَ اللّٰهِ بِحُبِّ ثَنَاءِ الْعِبَادِ فَتُحْبِطَ أَعْمَالُكُمْ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.
(Dan sifat riya dari kalangan para hamba) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Waspadalah kalian agar tidak mencampur aduk ketaatan kepada Allah dengan cinta pujian dari para hamba sehingga dihapus pahala amalan-amalan kalian] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam ad-Dailami
وَأَمَّا وُجُوْدُ الْحَمْدِ مِنَ النَّاسِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُحِبَّهُ فَلَا بَأْسَ بِهِ لِأَنَّهُ لَيْسَ رِيَاءً
Adapun adanya pujian dari manusia tanpa dia suka dipuji manusia maka tidak apa apa atas pujian tersebut karena itu bukan riya
كَمَا رُوِيَ عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ قَالَ: قِيْلَ لِرَسُوْلِ اللّٰهِ ﷺ: [أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنَ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ النَّاسُ عَلَيْهِ ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ] رَوَاهُ مُسْلِمٌ.
Sebagaimana telah diriwayatkan dari Abu Dzar Radhiallahu Anhu berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ: [Bagaimana pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan suatu amal dari amal baik kemudian memuji kepadanya manusia karena amalan tersebut? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: Itu adalah berita gembira yang didahulukan untuk orang yang beriman] Telah meriwayatkan kepada hadits ini Imam Muslim.
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi