(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّانِيَةُ (قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ رَضِيَ اللَّٰهُ عَنْهُ: مَا مِنْ عَبْدٍ رَزَقَهُ اللّٰهُ عَشْرَ خِصَالٍ إلَّا وَقَدْ نَجَا مِنَ الْآفَاتِ وَالْعَاهَاتِ كُلِّهَا) وَالْعَاهَاتُ عَطْفُ مُرَادِفٍ، وَهِيَ فِي الْأَصْلِ مَا يُفْسِدُ الزَّرْعَ
Maqolah yang kedua (Telah berkata Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiallahu Anhu: Tidaklah dari seorang hamba yang telah Allah berikan rizki kepadanya sepuluh sifat melainkan dia benar-benar selamat dari segala penyakit dan bencana seluruhnya) Lafadz العاهات adalah atof dari lafadz sinonim, Lafadz العاهات pada asal maknanya adalah sesuatu yang dapat merusak tanaman
(وَصَارَ فِى دَرَجَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ) مِنَ اللّٰهِ تَعَالَى (وَنَالَ دَرَجَةَ الْمُتَّقِيْنَ) أَيْ الَّذِيْنَ تَرَكُوْا شَهَوَاتِ النَّفْسِ وَاجْتَنَبُوْا الْمَنْهِيَّاتِ.
(Dan dia benar-benar menempati derajat orang-orang yang dekat) dengan Allah Ta'ala (Dan dia benar-benar meraih derajat orang-orang yang bertakwa) Yaitu orang-orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan nafsu dan orang-orang yang menjauhi perkara-perkara yang dilarang.
(أَوَّلُهَا: صِدْقٌ دَائِمٌ مَعَهُ قَلْبٌ قَانِعٌ) أَيْ رَاضٍ بِالْقِسْمَةِ، فَصِدْقُ اللِّسَانِ أَوَّلُ السَّعَادَةِ مَنْ قَلَّ صِدْقُهُ قَلَّ صَدِيْقُهُ.
(Yang pertama dari sepuluh sifat itu: Adalah kejujuran yang terus menerus bersama dengan kejujuran tersebut hati yang qana'ah) Maksudnya ridha dengan takdir. Maka, kejujuran lisan adalah awal dari kebahagiaan. Barang siapa yang sedikit kejujurannya, sedikit pula temannya.
(وَالثَّانِى: صَبْرٌ كَامِلٌ مَعَهُ شُكْرٌ دَائِمٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [أَفْضَلُ الْإِيْمَانِ الصَّبْرُ وَالسَّمَاحَةُ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [نِعَمَ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ الصَّبْرُ وَالدُّعَاءُ].
(Dan yang kedua: Adalah kesabaran yang sempurna bersama dengan kesabaran tersebut rasa syukur yang terus-menerus) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Paling utamanya keimanan adalah kesabaran dan kemurahan hati]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami. Dan telah diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sebaik-baik senjata orang mumin adalah kesabaran dan doa].
وَقَالَ سَيِّدِيْ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيْلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: كَيْفَ يَحْسُنُ مِنْكَ الْعُجْبُ فِى أَعْمَالِكَ وَرُؤْيَةُ نَفْسِكَ فِيْهَا وَطَلَبُ الْأَعْوَاضِ عَلَيْهَا وَجَمِيْعُ ذٰلِكَ بِتَوْفِيْقِ اللّٰهِ تَعَالَى وَفَضْلِهِ وَإِنْ كُنْتَ تَرَكْتَ الْمَعْصِيَةَ فَبِحِفْظِهِ،
Dan telah berkata tuanku Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani Qoddasa Sirroh: Bagaimana bisa bagus darimu sifat ujub atas amal-amalmu dan memandangnya dirimu dalam amal tersebut serta meminta balasan-balasan atas amal tersebut, sedangkan semua itu adalah karena taufik Allah Ta'ala dan karunia-Nya. Dan Jika engkau terbukti meninggalkan maksiat maka itu pun karena penjagaan-Nya."
أَيْنَ أَنْتَ مِنَ الشُّكْرِ عَلَى ذٰلِكَ وَالِاعْتِرَافِ بِهٰذِهِ النِّعَمِ الَّتِيْ أَعْطَاكَهَا فَاللَّهُ خَالِقُكَ وَخَالِقُ أَفْعَالِكَ مَعَ كَسْبِكَ أَنْتَ الْكَاسِبُ وَهُوَ تَعَالَى الْخَالِقُ.
Di manakah engkau dari rasa syukur atas hal itu dan pengakuan terhadap nikmat-nikmat ini yang telah Dia berikan kepadamu kenikmatan itu? Allah adalah Penciptamu dan Pencipta segala amal perbuatanmu, bersamaan dengan usahamu. Engkaulah yang berusaha, dan Allah Ta'ala yang menciptakan.
(وَالثَّالِثُ: فَقْرٌ دَائِمٌ مَعَهُ زُهْدٌ حَاضِرٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [يَا مَعْشَرَ الْفُقَرَاءِ أَعْطُوْا اللّٰهَ الرِّضَا مِنْ قُلُوْبِكُمْ تَظْفَرُوا بِثَوَابِ فَقْرِكُمْ وَإِلَّا فَلَا]. قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: اِسْتِغْنَاؤُكَ عَنِ الشَّيْءِ خَيْرٌ مِنْ اِسْتِغْنَائِكَ بِهِ.
(Dan yang ketiga: Adalah Kefaqiran yang terus-menerus bersama dengan kefakiran tersebut sikap zuhud yang hadir) Diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ bersabda: [Wahai golongan orang-orang fakir, berikanlah kepada Allah keridhoan dari hati kalian, maka kalian akan memperoleh pahala dari kemiskinan kalian, dan jika tidak, maka tidak]. Telah berkata sebagian dari orang-orang yang bijaksana: Ketidakbutuhanmu terhadap sesuatu lebih baik daripada ketergantunganmu padanya.
(وَالرَّابِعُ: فِكْرٌ دَائِمٌ مَعَهُ بَطْنٌ جَائِعٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَفَكَّرُوْا فِى كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تَفَكَّرُوْا فِى ذَاتِ اللّٰهِ، فَإِنَّ بَيْنَ السَّمَاءِ السَّابِعَةِ إلَى كُرْسِيِّهِ سَبْعَةَ آلَافِ نُوْرٍ وَهُوَ فَوْقَ ذٰلِكَ] رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [رَحِمَ اللّٰهُ قَوْمًا يَحْسُبُهُمُ النَّاسُ مَرْضَى وَمَا هُمْ بِمَرْضَى] رَوَاهُ ابْنُ الْمُبَارَكِ.
(Keempat: Adalah tafakkur yang terus menerus bersama dengan tafakkur tersebut perut yang lapar) Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: [Bertafakkurlah kalian pada segala sesuatu, namun janganlah kalian bertafakkur tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya antara langit ketujuh sampai kursi-Nya terdapat tujuh ribu cahaya, sedangkan kursi-Nya Allah di atas itu semua]. Diriwayatkan sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: [Allah merahmati suatu kaum yang manusia mengira kaum tersebut sakit sedangkan tidaklah mereka itu sakit]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Mubarok
(وَالْخَامِسُ: حُزْنٌ دَائِمٌ مَعَهُ خَوْفٌ مُتَّصِلٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَوْ تَعْلَمُوْنَ مَا لَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ لَأَحْبَبْتُمْ أَنْ تَزْدَادُوْا فَاقَةً وَحَاجَةً] رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ.
(Kelima: Adalah kesedihan yang terus-menerus bersama dengan kesedihan tersebut rasa takut yang berkelanjutan). Diriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: [Seandainya kalian mengetahui ganjaran untuk kalian di sisi Allah , niscaya kalian akan mencintai bertambahnya kefakiran dan kebutuhan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi.
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كَفَى بِالْمَرْءِ عِلْمًا أَنْ يَخْشَى اللّٰهَ، وَكَفَى بِالْمَرْءِ جَهْلًا أَنْ يَعْجَبَ بِنَفْسِهِ]. رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Cukuplah bagi seorang hamba dikatakan berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah bagi seorang hamba dikatakan bodoh jika ia mengagumi dirinya sendiri]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi
وَرُوِيَ أَنَّهَ ﷺ قَالَ: [إنَّمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ يَرْجُوْهَا وَإِنَّمَا يَجْتَنِبُ النَّارَ مَنْ يَخَافُهَا، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللّٰهُ مَنْ يَرْحَمُ].
Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya yang akan masuk surga hanyalah orang yang mengharapkannya, dan sesungguhnya yang akan menjauhi neraka hanyalah orang yang takut kepadanya, dan sesungguhnya Allah akan mengasihi hanya kepada orang yang mengasihi].
(وَالسَّادِسُ: جُهْدٌ) أَيْ مَشَقَّةٌ (دَائِمٌ مَعَهُ بَدَنٌ مُتَوَاضِعٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَوَاضَعُوْا وَجَالِسُوْا الْمَسَاكِيْنَ تَكُونُوْا مِنْ كِبَارِ أَهْلِ اللّٰهِ وَتَخْرُجُوْا مِنَ الْكِبْرِ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ.
(Dan yang keenam: Adalah usaha) Maksudnya kesulitan (Yang terus-menerus bersama dengan usaha tersebut badan yang tawadhu) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Bersikap sederhanalah kalian dan duduklah kalian bersama orang-orang miskin niscaya kalian akan menjadi bagian dari kalangan pembesar wali-wali Allah dan kalian akan terlepas dari kesombongan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim
وَقَالَ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قَدَّسَ سِرَّهُ: كُلَّمَا جَاهَدْتَ نَفْسَكَ وَقَتَلْتَهَا بِسَيْفِ الْمُخَالَفَةِ أَحْيَاهَا اللّٰهُ وَنَازَعَتْكَ وَطَلَبَتْ مِنْكَ الشَّهَوَاتِ وَاللَّذَّاتِ لِتَعُوْدَ إِلَى الْمُجَاهَدَةِ لِيَكْتُبَ لَكَ ثَوَابًا دَائِمًا
Telah berkata tuanku Abdul Qodir Al Jailani Qoddasa Sirroh: Setiap kali engkau melawan nafsumu dan engkau membunuh nafsumu dengan pedang pertentangan maka Allah akan menghidupkannya dan nafsumu akan melawanmu dan meminta darimu syahwat-syahwat kenikmatan agar engkau kembali berjidah melawannya sehingga Allah akan mencatat bagimu pahala yang terus menerus
وَهُوَ مَعْنَى قَوْلِهِ تَعَالَى: ﴿وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِينُ﴾ [الْحِجْرِ: الْآيَةُ ٩٩] أَيْ وَخَالِفْ نَفْسَكَ يَا أَشْرَفَ الْخَلْقِ إِلَى أَنْ يَأْتِيَكَ الْمَوْتُ. وَسُمِّيَتْ مُخَالَفَةُ النَّفْسِ بِالْعِبَادَةِ لِأَنَّ النَّفْسَ تَأْبَاهَا وَتُرِيْدُ ضِدَّهَا.
Dan ini adalah makna dari firman Allah Ta'ala: ﴾Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian﴿ [Q.S Al-Hijr: Ayat 99]. Maksudnya lawanlah nafsumu wahai makhluk yang paling mulia sampai datang kepadamu kematian. Dan dinamakan menolak nafsu dengan ibadah karena sesungguhnya nafsu menolak ibadah dan dia menginginkan kebalikannya.
(وَالسَّابِعُ: رِفْقٌ دَائِمٌ) أَيْ فِى جَمِيْعِ الْأَفْعَالِ (مَعَهُ رَحِمٌ حَاضِرٌ) وَفِى الْحَدِيْثِ: [إنَّمَا يَرْحَمُ اللّٰهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءُ] إِنْتَهَى، يُرْوَى بِالنَّصْبِ عَلَى أَنَّهُ مَفْعُوْلُ يَرْحَمُ وَبِالرَّفْعِ عَلَى أَنَّهُ خَبَرُ إنَّ وَمَا بِمَعْنَى الَّذِيْ.
(Dan yang ketujuh: Adalah sifat lemah lembut yang terus-menerus) Maksudnya kelembutan dalam semua tindakan (Bersama dengan sifat lemah lembut tersebut kasih sayang yang selalu hadir) Dan dalam suatu hadits: [Sesungguhnya Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang penuh kasih sayang]. Sampai sinilah hadits berakhir. Lafadz رُحَمَاءُ diriwayatkan dengan dua bacaan: dibaca naṣab karena sesungguhnya lafadz رُحَمَاءُ berfungsi sebagai maf‘ūl dari kata يَرْحَمُ. Atau dengan dibaca rafa‘ karena sesungguhnya lafadz رُحَمَاءُ adalah khabar dari harap إِنَّ sedangkan lafadz ما dengan bermakna isim mausul الَّذِيْ.
(وَالثَّامِنُ: حُبٌّ دَائِمٌ) فِى اللّٰهِ تَعَالَى (مَعَهُ حَيَاءٌ حَاضِرٌ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [كُلُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ؟ قَالُوْا: نَعَمْ يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ.
(Dan yang kedelapan: Adalah cinta yang terus-menerus) Kepada Allah Ta'ala (Bersama dengan rasa cinta tersebut rasa malu yang hadir) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Masing masing dari kalian semua ingin masuk surga? Para sahabat berkata: Iya wahai Rasulallah
قَالَ: أَقْصِرُوْا مِنَ الْأَمَلِ وَأَثْبِتُوْا آجَالَكُمْ بَيْنَ أَبْصَارِكُمْ وَاسْتَحْيُوْا مِنَ اللّٰهِ حَقَّ الْحَيَاءِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ كُلُّنَا نَسْتَحِيِ مِنَ اللّٰهِ،
Nabi ﷺ bersabda: Pendekkanlah oleh kalian lamunan-lamunan kosong dan tetapkanlah oleh kalian ajal kalian di depan mata kalian dan malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya rasa malu. Para sahabat berkata: Wahai Rasulullah masing-masing dari kami malu kepada Allah
قَالَ: لَيْسَ كَذٰلِكَ الْحَيَاءُ مِنَ اللّٰهِ وَلٰكِنِ الْحَيَاءُ مِنَ اللّٰهِ أَنْ لَّا تَنْسَوْا الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى وأَنْ لَا تَنْسَوْا الْجَوْفَ وَمَا وَعَى وأَنْ لَا تَنْسَوْا الرَّأْسَ وَمَا حَوَى.
Nabi ﷺ bersabda: Bukan seperti itu rasa malu kepada Allah. Akan tetapi, rasa malu kepada Allah adalah kalian tidak melupakan kuburan-kuburan dan kerusakan jasad dan kalian tidak melupakan perut dan sesuatu yang ia kandung dan kalian tidak melupakan kepala dan sesuatu yang ia muat
وَمَنِ اشْتَهَى كَرَامَةَ الْآخِرَةِ يَدَعْ زِيْنَةَ الدُّنْيَا هُنَالِكَ اسْتَحْيَا الْعَبْدُ مِنَ اللّٰهِ وهُنَالِكَ أَصَابَ وِلَایَةَ اللّٰهِ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَیْمٍ
Dan barang siapa yang menginginkan kemuliaan akhirat maka hendaknya dia meninggalkan perhiasan dunia disitulah rasa malu seorang hamba kepada Allah dan disanalah dia akan mendapatkan kewalian dari Allah]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim.
(وَالتَّاسِعُ: عِلْمٌ نَافِعٌ مَعَهُ عَمَلٌ دَائِمٌ) وَفِى نُسْخَةٍ مَعَهُ حِلْمٌ دَائِمٌ. رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [تَعَلَّمُوْا مِنَ الْعِلْمِ مَا شِئْتُمْ أَنْ تَعْلَمُوْا فَلَنْ يَنْفَعَكُمْ اللّٰهُ بِالْعِلْمِ حَتَّى تَعْمَلُوْا بِمَا تَعْلَمُوْنَ] رَوَاهُ ابْنُ عَدِيٍّ،
(Dan yang kesembilan: Adalah ilmu yang bermanfaat bersama ilmu tersebut amal yang terus-menerus) Dalam suatu naskh bersama ilmu tersebut sabar yang terus-menerus. Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Pelajarilah oleh kalian ilmu sebanyak yang kalian inginkan untuk dipelajari namu Allah tidak akan memberi manfaat kepada kalian dengan ilmu hingga kalian mengamalkan atas apa yang kalian ketahui] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ibnu Adiy
وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [آفَةُ الظَّرْفِ الصَّلْفُ، وَآفَةُ الشَّجَاعَةِ الْبَغْيُ، وَآفَةُ السَّمَاحَةِ الْمَنُّ، وَآفَةُ الْجَمَالِ الْخُيَلَاءُ، وَآفَةُ الْعِبَادَةِ الْفِتْرَةُ، وَآفَةُ الْحَدِيْثِ الْكَذِبُ، وَآفَةُ الْعِلْمِ النِّسْيَانُ، وَآفَةُ الْحِلْمِ السَّفَهُ، وَآفَةُ الْحَسَبِ الْفَخْرُ، وَآفَةُ الْجُوْدِ السَّرَفُ] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
Diriwayatkan sesungguhnya Nabi bersabda: [Penyakit cerdas adalah kesombongan dan penyakit berani adalah semena-mena dan penyakit dermawan adalah mengungkit pemberian dan penyakit tampan adalah kesombongan dan penyakit ibadah adalah kelalaian dan penyakit ucapan adalah kebohongan penyakit ilmu adalah lupa dan penyakit sabar adalah kebodohan penyakit turunan mulia adalah berbangga diri dan penyakit murah hati adalah pemborosan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam al-Baihaqi
(وَالْعَاشِرُ: إِيْمَانٌ دَائِمٌ مَعَهُ عَقْلٌ ثَابِتٌ) فَالْعَقْلُ يَنْبُوْعُ الْأَدَبِ. قَالَ بَعْضُ الْبُلَغَاءِ: خَيْرُ الْمَوَاهِبِ الْعَقْلُ وَشَرُّ الْمَصَائِبِ الْجَهْلُ. وَقَالَ بَعْضُ الْأُدَبَاءِ: صَدِيْقُ كُلِّ امْرِىءٍ عَقْلُهُ وَعَدُوُّهُ جَهْلُهُ وَقَدْ جَعَلَ اللّٰهُ الْعَقْلَ أَصْلًا لِلدِّيْنِ وَعِمَادًا لَهُ.
(Dan yang kesepuluh adalah iman yang terus-menerus bersama dengan iman tersebut akal yang kokoh) Maka akal itu menjadi sumber adab. Sebagian ahli balaghah berkata: Sebaik-baik anugerah adalah akal, dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan. Dan sebagian ahli adab berkata: Sahabat setiap orang adalah akalnya, dan musuh setiap orang adalah kebodohannya. Dan benar-benar Allah telah menjadikan akal sebagai dasar agama dan penopang baginya.
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi