(وَ) الْمَقَالَةُ الْخَامِسَةُ (عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُ) وَكَرَّمَ اللّٰهُ وَجْهَهُ (لَا خَيْرَ فِى صَلَاةٍ لَا خُشُوْعَ فِيْهَا) فَالْخُشُوْعُ فِى جُزْءٍ مِنَ الصَّلَاةِ وَاجِبٍ لَيْسَ بِشَرْطٍ كَمَا قَالَهُ شَيْخُنَا أَحْمَدُ النَّحْرَاوِيُّ.
Maqolah yang kelima (Dari Ali Radhiallahu Anhu) Wakarrama Wajhahu (Tidak ada kebaikan dalam sholat yang tidak ada khusyu di dalamnya) Khusyu pada bagian dari sholat wajib bukan termasuk syarat sebagaimana telah berkata pada ucapan itu Syekh Ahmad An-Nahrawi.
أَوْحَى اللّٰهُ إلَى بَعْضِ أَنْبِيَائِهِ: [عَبْدِيْ هَبْ لِيْ مِنْ عَيْنِكَ الدُّمُوْعَ وَمِنْ قَلْبِكَ الْخُشُوْعَ ثُمَّ ادْعُ فَإِنِّيْ أَسْتَجِيْبُ لَكَ وَأَنَا الْقَرِيْبُ الْمُجِيْبُ.]
Allah telah mewahyukan kepada sebagian dari Nabi-Nabinya: [Hambaku berikanlah kepadaku dari kedua matamu air mata dan dari hatimu khusyu kemudian berdoalah karena sesungguhnya aku akan mengabulkan untuk mu dan aku adalah yang maha dekat, maha mengabulkan].
(وَلَا خَيْرَ فِى صَوْمٍ لَا امْتِنَاعَ فِيْهِ عَنِ اللَّغْوِ) أَيْ الْكَلَامِ الَّذِيْ لَا فَائِدَةَ فِيْهِ
(Dan tidak ada kebaikan dalam puasa yang tidak mencegah di dalamnya dari perbuatan yang sia-sia) Maksudnya perkataan yang tidak ada manfaat di dalamnya
(وَلَا خَيْرَ فِى قِرَاءَةٍ) لِلْقُرْآنِ (لَا تَدَبُّرَ فِيْهَا) أَيْ لَا نَظَرَ فِى أَحْكَامِهَا
(Dan tidak ada kebaikan di dalam membaca) Al-Qur'an (Yang tidak ada tadabbur di dalamnya) Maksudnya tidak memperhatikan pada hukum-hukumnya
(وَلَا خَيْرَ فِى عِلْمٍ لَا وَرَعَ) عَنِ الشُّبُهَاتِ وَالْمُحَرَّمَاتِ (فِيْهِ) أَيْ مَعَ الْعِلْمِ.
(Tidak ada kebaikan dalam ilmu yang tidak ada wara') Dari perkara-perkara syubhat dan perkara-perkara yang diharamkan (Di dalamnya) Maksudnya disertai ilmu
قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: [مَنِ اتَّقٰى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبَرَأَ لِدِيْنِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِى الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِى الْحَرَامِ]
Telah bersabda Nabi ﷺ: [Barang siapa menghindari perkara-perkara syubhat maka benar-benar dia telah membersihkan agamanya dan kehormatannya dan barang siapa terjerumus dalam perkara-perkara syubhat maka dia terjerumus dalam perkara-perkara haram].
(وَلَا خَيْرَ فِى مَالٍ لَا سَخَاوَةَ فِيْهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ عَطِيَّةٍ بِصَدَقَةٍ أَوْ صِلَةٍ إلَّا زَادَهُ اللّٰهُ بِهَا كَثْرَةً، وَمَا فَتَحَ رَجُلٌ بَابَ مَسْأَلَةٍ يُرِيْدُ بِهَا كَثْرَةً إلَّا زَادَهُ اللّٰهُ بِهَا قِلَّةً] رَوَاهُ الْبَيْهَقِيُّ.
(Dan tidak ada kebaikan dalam harta yang tidak ada kedermawanan di dalamnya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah membuka seseorang pada pintu memberi dengan bersedekah atau dengan bersilatur rahmi melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab sedekah atau silaturahmi itu kemakmuran dan tidaklah membuka seseorang pada pintu mengemis yang dia ingin dengan sebab mengemis itu menjadi makmur melainkan Allah akan menambah kepadanya dengan sebab mengemis itu ketidak cukupan]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Al-Baihaqi
(وَلَا خَيْرَ فِى أُخُوَّةٍ لَا حِفْظَ فِيْهَا) رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ أَنَّهُ قَالَ: [عَلَيْكُمْ بِإِخْوَانِ الصَّفَا فَإِنَّهُمْ زِيْنَةٌ فِى الرَّخَاءِ وَعَضْمَةٌ فِى الْبَلَاءِ].
(Dan tidak ada kebaikan dalam persaudaraan yang tidak menjaga di dalamnya) Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi bersabda: [Wajib atas kalian menjalin persaudaraan yang tulus karena sesungguhnya persaudaraan yang tulus itu adalah perhiasan di saat lapang dan penjaga di saat ada musibah ].
وَرَوَى أَبُوْ الزُّبَيْرِ عَنْ سَهْلٍ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: [اَلْمَرْءُ كَثِيْرٌ بِأَخِيْهِ وَلَا خَيْرَ فِى صُحْبَةِ مَنْ لَا يَرَى لَكَ مِنَ الْحَقِّ مِثْلَ مَا تَرَى لَهُ].
Abu Zubair telah meriwayatkan dari Sahl bin Sa'd sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Seseorang itu makmur karena saudaranya dan tidak ada kebaikan dalam menemani orang yang tidak melihat pada mu dari hak-hak sebagaimana engkau melihat pada haknya].
(وَلَا خَيْرَ فِي نِعْمَةٍ لَا بَقَاءَ فِيْهَا) وَكَانَ بَعْضُهُمْ دَعَا بِهٰذَا الدُّعَاءِ: اَللّٰهُمَّ لَا تَسْلِبْ مِنِّيْ نِعْمَةً أَنْعَمْتَ بِهَا عَلَيَّ
(Dan tidak ada kebaikan dalam nikmat yang tidak kekal di dalamnya) Dan ada sebagian ulama berdoa dengan doa ini: Ya Allah semoga engkau tidak mencabut dariku kenikmatan yang telah engkau berikan kenikmatan itu kepadaku
(وَلَا خَيْرَ فِى دُعَاءٍ لَا إخْلَاصَ فِيْهِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إنَّ هٰذِهِ الْقُلُوْبَ أَوْعِيَةٌ فَخَيْرُهَا أَوْعَاهَا فَإِذَا سَأَلْتُمْ اللّٰهَ فَاسْأَلُوْهُ وَأَنْتُمْ وَاثِقُوْنَ بِالْإِجَابَةِ فَإِنَّ اللّٰهَ لَا يَسْتَجِيْبُ دُعَاءَ مَنْ دَعَا مِنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ] رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ.
(Dan tidak ada kebaikan dalam doa yang tidak ada keikhlasan di dalamnya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya berbagai hati ini adalah wadah maka yang paling baik darinya adalah yang paling banyak menampung. Maka ketika kalian meminta kepada Allah mintalah kepadanya dan kalian yakin akan dikabulkan karena sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa orang yang berdoa dari luar hati yang lalai] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam At-Thobroni.
Ingin Berbagi Kebaikan?
Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.
Lihat Program Donasi