Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 6 Maqolah 11 - Ayobuatbaik
App Icon

Ayobuatbaik App

Nikmati pengalaman lebih cepat & lancar.

Kembali ke Bab 6
BAB 6 MAQOLAH 11

Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 6 Maqolah 11

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الْحَادِيَةَ عَشْرَةَ (عَنْ بَعْضِ الْحُكَمَاءِ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ لَمْ يَخْشَ اللّٰهَ لَمْ يَنْجُ مِنْ زَلَّةِ اللِّسَانِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [طُوْبَى لِمَنْ مَلَكَ لِسَانَهُ وَوَسِعَهُ بَيْتُهُ وبَكَى عَلَى خَطِيْئَتِهِ] رَوَاهُ الطَّبْرَانِيُّ

Maqolah yang ke sebelas (Dari sebagian orang-orang yang bijaksana sesungguhnya mereka berkata: Barang siapa tidak takut kepada Allah maka dia tidak akan bisa selamat dari terpelesetnya lisan) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Keberuntungan bagi orang yang mampu mengendalikan lisannya dan terasa luas baginya rumahnya dan dia menangis atas kesalahannya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thabrani

(وَمَنْ لَمْ يَخْشَ قُدُوْمَهُ عَلَى اللّٰهِ) أَيْ مَنْ لَمْ يَخْشَ لِقَاءَ اللّٰهِ بِالْمَوْتِ (لَمْ يَنْجُ قَلْبُهُ مِنَ الْحَرَامِ وَالشُّبْهَةِ)

(Dan barang siapa yang tidak takut akan kedatangannya kepada Allah) Maksudnya barang siapa yang tidak takut bertemu dengan Allah sebab kematian (Maka hatinya tidak akan bisa selamat dari perkara haram dan syubhat)

فَالْمُحَرَّمَاتُ قِسْمَانِ أَحَدُهُمَا شَيْءٌ مُحَرَّمٌ لِذَاتِهِ كَالْمَيِّتَةِ وَالدَّمِ وَنَحْوِ ذٰلِكَ فَهٰذَا لَا يَحِلُّ إِلَّا لِسَدِّ بَقَاءِ رُوْحِهِ. وَالثَّانِى حَلَالٌ فِى نَفْسِهِ كَالْمَاءِ الطَّاهِرِ وَالْأَرُزِ لَكِنَّهُ مَمْلُوْكٌ لِلْغَيْرِ فَيَحْرُمُ عَلَيْكَ حَتَّى يَصِيْرَ مِلْكَكَ بِوَجْهٍ جَائِزٍ فِى الشَّرْعِ.

Maka perkara yang diharamkan itu ada dua bagian salah satu dari keduanya adalah sesuatu yang diharamkan karena dzatnya seperti bangkai dan darah dan yang semisal itu dan ini tidak halal kecuali untuk mempertahankan nyawanya. Dan yang kedua adalah sesuatu yang halal pada dzatnya seperti air yang suci dan beras akan tetapi barang itu dimiliki orang lain maka haram atasmu sampai barang itu menjadi milikmu dengan cara yang sah dalam hukum Syariat.

وَالشُّبْهَاتُ ثَلَاثُ دَرَجَاتٍ: مَا تُيُقِّنَ تَحْرِيْمُهُ وَشَكَّ فِى حِلِّهِ، وَفِى هٰذَا حُكْمُ الْحَرَامِ. وَمَا تُيُقِّنَ حِلُّهُ وَشُكَّ فِى تَحْرِيْمِهِ، وَهٰذِهِ الشُّبْهَةُ تَرْكُهَا مِنَ الْوَرَعِ، وَمَا يُحْتَمَلُ أَنْ يَكُوْنَ حَلَالًا وَحَرَامًا فَيَنْبَغِى تَرْكُهُ.

Dan perkara syubhat itu ada tiga tingkatan: Yang pertama adalah perkara syubhat yang diyakini keharamannya dan diragukan kehalalannya dan dalam hal ini adalah hukumnya haram dan yang kedua adalah perkara syubhat yang diyakini kehalalannya dan diragukan keharamannya dan perkara syubhat ini meninggalkannya termasuk dari wara' dan yang ketiga adalah perkara yang dimungkinkan kehalalannya dan dimungkinkan keharamannya maka sepatutnya meninggalkan itu

قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ ﷺ: [دَعْ مَا يُرِيْبُكَ إِلَى مَا لَا يُرِيْبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِيْنَةٌ والْكِذْبَ رَيْبَةٌ] رَوَاهُ التُّرْمُذِيُّ. وَيُرِيْبُكَ بِفَتْحِ الْيَاءِ وَضَمِّهَا.

Telah bersabda Rasulullah ﷺ: [Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu menuju perkara yang tidak meragukanmu karena sesungguhnya benar itu menenangkan dan bohong itu meragukan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Tirmidzi. Dan lafadz يُرِيْبُكَ dengan memfathahkan huruf ي atau mendzommahkannhya

وَمَعْنَى هٰذَا الْحَدِيْثِ: اُتْرُكْ مَا تَشُكُّ فِى حِلِّهِ وَاعْدِلْ إِلَى مَا لَا تَشُكُّ فِى حِلِّهِ، كَذَا أَفَادَ الشَّيْخُ حَسَنٌ اَلْحَمْزَاوِيُّ، وَمَعْنَى الرَّيْبَةُ اِضْطِرَابُ الْقَلْبِ. اهـ.

Dan ma'na hadits ini: adalah tinggalkan olehmu sesuatu yang kamu ragu tentang kehalalannya dan berpindahlah kepada sesuatu yang kamu tidak ragu tentang kehalalannya. Demikian telah menjelaskan Syekh Hasan Al-Hamzawi dan ma'na رَيْبَةٌ adalah kebingungan hati.

(وَمَنْ لَمْ يَكُنْ آيِسًا) أَيْ قاَطِعَ الرَّجَاءِ (عَنِ الْخَلْقِ لَمْ يَنْجُ مِنَ الطَّمَعِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اِسْتَعِيْذُوْا بِاللّٰهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ - أَيْ دَنَسٍ - وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَظْمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا مَظْمَعَ] رَوَاهُ الْإٍمَامُ أَحْمَدُ وَالطَّبْرَانِيُّ وَالْحَاكِمُ.

(Dan barang siapa tidak memutus harapan) Maksudnya memutus harapan (Dari sesama makhluk maka ia tidak akan bisa selamat dari sifat toma') Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Berlindunglah kalian kepada Allah dari sifat toma' yang mengajak kepada watak yang tidak baik maksudnya kotor dan dari sifat toma' yang mengajak kepada sesuatu yang tidak dapat diharapkan dan dari sifat toma' sekiranya tidak ada harapan] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ahmad dan Imam Thobroni dan Imam Hakim

(ومَنْ لَمْ يَكُنْ حَافِظًا عَلَى عَمَلِهِ) مِمَّا يُفْسِدُهُ (لَمْ يَنْجُ مِنَ الرِّيَاءِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِيَّاكُمْ أَنْ تَخْلِطُوْا طَاعَةَ اللّٰهِ بِحُبِّ ثَنَاءِ الْعِبَادِ فَتَحْبِطَ أَعْمَالُكُمْ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

(Dan barang siapa yang tidak menjaga amalnya) Dari perkara yang dapat merusaknya (Maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat riya) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Berhati hatilah kalian dalam mencampur adukkan ketaatan kepada Allah dengan sifat senang terhadap pujian dari hamba-hamba sehingga menjadi sia-sia amal-amal kalian]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami

(وَمَنْ لَمْ يَسْتَعِنْ بِاللّٰهِ عَلَى اخْتِرَاسِ قَلْبِهِ لَمْ يَنْجُ مِنَ الْحَسَدِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [اَلْحَسَدُ يُفْسِدُ الْإِيْمَانَ كَمَا يُفْسِدُ الصِّبْرُ الْعَسَلَ] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

(Dan barang siapa yang tidak meminta pertolongan kepada Allah untuk menjaga hatinya maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat iri dengki) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Iri dengki itu dapat merusak keimanan sebagaimana bisa merusaknya buah mahoni pada manisnya madu]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.

(وَمَنْ لَمْ يَنْظُرْ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْضَلُ مِنْهُ عِلْمًا وَعَمَلًا لَمْ يَنْجُ مِنَ الْعُجْبِ) رُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [مَنْ حَمِدَ نَفْسَهُ عَلَى عَمَلٍ صَالِحٍ فَقَدْ ضَلَّ شُكْرُهُ وحَبِطَ عَمَلُهُ] رَوَاهُ أَبُوْ نُعَيْمٍ،

(Dan barang siapa yang tidak melihat kepada orang yang dia lebih hebat dari pada dirinnya keilmuannya dan amalnya maka dia tidak akan bisa selamat dari sifat ujub) Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Barang siapa yang memuji-muji pada dirinya sendiri atas amalnya yang sholih maka benar benar telah sia-sia syukurnya dan terhapus pahala amalnya]. Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Abu Nu'aim

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [لَيْسَ بِالْخَيْرِ أَنْ يُظْهِرَ الْقَوْلَ بِلِسَانِهِ وَالْعُجْبُ فِى قَلْبِهِ] رَوَاهُ الدَّارُقُطْنِيُّ. وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ قَالَ: [إِنَّ الْعُجْبَ لَيُحْبِطُ عَمَلَ سَبْعِينَ سَنَةً] رَوَاهُ الدَّيْلَمِيُّ.

Diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Tidaklah baik apabila orang menampakkan ucapan dengan lisannya sementara ujub masih ada dalam hatinya] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Thobroni. Dan diriwayatkan sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: [Sesungguhnya sifat ujub itu benar-benar dapat menghpus amal selama tujuh puluh tahun] Telah meriwayatkan pada hadits ini Imam Ad-Dailami.

Ingin Berbagi Kebaikan?

Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.

Lihat Program Donasi

Bagikan Kebaikan