Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 4 Maqolah 23 - Ayobuatbaik
App Icon

Ayobuatbaik App

Nikmati pengalaman lebih cepat & lancar.

Kembali ke Bab 4
BAB 4 MAQOLAH 23

Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 4 Maqolah 23

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّالِثَةُ وَالْعِشْرُونَ (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ) رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ (أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ رَجُلًا حَكِيمًا) وَهُوَ مَنْ يَعْرِفُ الْأُمُورَ (جَمَعَ الْأَحَادِيثَ فَاخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَحَادِيثِ الْمَجْمُوعَةِ (أَرْبَعِينَ أَلْفًا) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُنْتَقَاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ أَلْفًا (أَرْبَعَةَ آلَافٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُصَفَّاةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعَةِ آلَافٍ (أَرْبَعَمِائَةٍ) مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْرَجَةِ (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِمِائَةِ (أَرْبَعِينَ) حَدِيثًا مُبَجَّلًا (ثُمَّ اخْتَارَ مِنْهَا) أَيْ الْأَرْبَعِينَ (أَرْبَعَ كَلِمَاتٍ) أَيْ أَرْبَعَ جُمَلٍ مِنَ الْأَحَادِيثِ الْمُسْتَخْلَصَةِ.

Maqolah yang ke dua puluh tiga (Dari Abdullah bin Mubarok) Radhiallahu Anhu (Sesungguhnya ia berkata: Sesungguhnya ada seorang lelaki yang ahli hikmah) Ahli hikamah adalah orang yang mengetahui berbagai perkara (Itu mengumpulkan hadits-hadits kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari hadits-hadits yang dikumpulkan (Empat puluh ribu) Dari hadits-hadits yang dipilih (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh ribu (Empat ribu) Dari hadits-hadits yang disaring (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ribu (Empat ratus) Dari hadits-hadits yang dikeluarkan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat ratus (Empat puluh) Hadits yang dimuliakan (Kemudian ia memilih darinya) Maksudnya dari empat puluh (Empat kalimat) Maksudnya empat jumlah dari hadits-hadits yang dirangkum.

(إِحْدَاهُنَّ: لَا تَثِقَنَّ بِامْرَأَةٍ) أَيْ لَا تَطْمَئِنُّ إِلَيْهَا وَلَا تَأْتَمِنَّهَا (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ لِلرَّجُلِ مِنَ الْغَيْرَةِ أَيْ كَرَاهَةِ شَرِكَةِ الْغَيْرِ فِي حَقِّهِ.

(Salah satu dari empat kalimat itu: Adalah janganlah kamu percaya pada seorang wanita) Maksudnya janganlah kamu tenang kepada seorang wanita dan janganlah kamu mengamanatkan kepada seorang wanita (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak untuk seorang lelaki dari rasa cemburu maksudnya tidak ingin disertai oleh orang lain dalam haknya.

(وَالثَّانِيَةُ: لَا تَغْتَرَّنَّ بِالْمَالِ) أَيْ لَا تَظُنَّ الْأَمْنَ مِنَ الْهَلَاكِ بِسَبَبِ الْمَالِ فَلَمْ تَحْفَظْ الْأُمُورَ وَلَا تَكُنْ مَخْدُوعًا بِكَثْرَةِ الْمَالِ (عَلَى كُلِّ حَالٍ) بَلْ لَا بُدَّ مِنَ الِاحْتِيَاطِ وَمِنْ تَذَكُّرِ الْآخِرَةَ.

(Dan yang kedua: Adalah janganlah kamu teripu dengan harta) Maksudnya janganlah kamu merasa aman dari kebinasaan sebab harta kemudian kamu tidak menjaga pada urusan-urusan dan janganlah kamu menjadi orang yang tertipu sebab banyak harta (Dalam setiap keadaan) Bahkan tidak boleh tidak dari berhati-hati dan dari mengingat akhirat.

(وَالثَّالِثَةُ: لَا تُحَمِّلْ مَعِدَتَكَ مَا لَا تُطِيقُهُ) قَالَ ﷺ: [أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ الْبَرَدَةُ] رَوَاهُ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ أَنَسٍ وَابْنِ السُّنِّيِّ وَأَبُو نُعَيْمٍ عَنْ عَلِيٍّ وَعَنِ ابْنِ سَعِيدٍ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ، أَيْ أَصْلُ كُلِّ دَاءٍ مُتَعَلِّقٌ بِالْمَعِدَةِ التُّخْمَةُ وَهِيَ إِدْخَالُ الطَّعَامِ عَلَى الطَّعَامِ وَكَذَا شُرْبُ الْمَاءِ عَقِبَ الطَّعَامِ أَوْ بَيْنَ الطَّعَامَيْنِ قَبْلَ هَضْمِ الْأَوَّلِ.

(Dan yang ke tiga: Adalah janganlah kamu membebani perutmu dengan makanan yang tidak mampu menanggungnya) Telah bersabda ﷺ: [Pangkal setiap penyakit adalah terlalu kenyang] Telah merwayatkan hadits ini Imam Ad-Daruqutni dari Anas dan Ibnu Sunni dan Abu Nuaim dari Ali dan dai Ibnu Sa'id dan dari Zuhri. Maksudnya pangkal setiap penyakit yang berhubungan dengan pencernaan adalah kenyang yaitu memasukkan makanan di atas makanan dan begitu juga meminum air setelah makan atau meminum air di antara dua kali makan sebelum dicerna makanan yang pertama.

(وَالرَّابِعَةُ: لَا تَجْمَعْ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَا يَنْفَعُكَ) قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَأَخَافَ أَنْ أُضَيِّعَهُ، فَقَالَ: كَفَى بِتَرْكِكَ لِلْعِلْمِ إِضَاعَةً. وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مِنْ مَكَايِدِ الشَّيْطَانِ تَرْكُ الْعَمَلِ خَوْفًا مِنْ أَنْ يَقُولَ النَّاسُ إِنَّهُ لَمُرَاءٍ لِأَنَّ تَطْهِيرَ الْعَمَلِ مِنْ نَزَعَاتِ الشَّيْطَانِ بِالْكُلِّيَّةِ مُتَعَذِّرٌ، فَلَوْ وَقَّفْنَا الْعِبَادَةَ عَلَى الْكَمَالِ لَتَعَذَّرَ الِاشْتِغَالُ بِشَيْءٍ مِنَ الْعِبَادَاتِ وَذَلِكَ يُوجِبُ الْبَطَالَةَ الَّتِي هِيَ أَقْصَى غَرَضِ الشَّيْطَانِ، وَلِذَا قَالَ بَعْضُهُمْ: سِيرُوا إِلَى اللَّهِ عُرْجًا وَمَكَاسِیْرَ.

(Dan yang ke empat: Adalah janganlah kamu mengumpulkan ilmu yang tida bermanfaat padamu) Telah berkata seorang lelaki kepada Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu: Sesungguhnya aku ingin mencari ilmu dan aku takut menyia-nyiakan ilmu kemudian Abu Huroiroh berkata: Cukuplah dengan meninggalkannya kamu pada ilmu menjadi sia-sia. Telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anu: Sebagian dari tipu daya setan adalah meninggalkan amal karena taku berkata para manusia sungguh orang itu benar-benar ria karena sesungguhnya mensucikan amal-amal dari godaan setan secara keseluruhan itu sulit. Andai kita mengsyaratkan pada ibadah atas kesempurnaan maka pasti kesulitan menyibukkan satu perkara dari ibadah dan hal itu bisa mengakibatkan bermalas-malasan yang bermalas malasan itu adalah puncak dari tujuan setan. Karena itu berkata sebagian ulama: Berjalanlah kalaian menuju Allah sambil terpincang-pincang dan patah.

وَقَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ عَظَمَتْ قِيمَتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْفِقْهَ نَبُلَ قَدْرُهُ، وَمَنْ كَتَبَ الْحَدِيثَ قَوِيَتْ حُجَّتُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْحِسَابَ جَزُلَ رَأْيُهُ، وَمَنْ تَعَلَّمَ الْعَرَبِيَّةَ رَقَّ طَبْعُهُ، وَمَنْ لَمْ يَصُنْ نَفْسَهُ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ اهُ.

Dan telah berkata Imam Syafi'i Radhiallahu Anhu: Barangsiapa yang mempelajari Al-Qur'an maka pasti agung nilainya dan barang siapa yang mempelajari ilmu fekih maka pasti mulia kedudukannya dan barang siapa yang menulis hadits maka pasti kuat hujjahnya orang itu dan barang siapa mempelajari ilmu hisab maka pasti banyak idenya dan barang siapa yang mempelajari bahasa Arab maka pasti menjadi lemah lembut sifatnya dan barang siapa yang tidak menjaga dirinya sendiri maka pasti tidak bermanfaat padanya ilmunya. Sampai sini perkataan Imam Syafi'i berakhir.

 

Ingin Berbagi Kebaikan?

Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.

Lihat Program Donasi

Bagikan Kebaikan