Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 3 Maqolah 8 - Ayobuatbaik
App Icon

Ayobuatbaik App

Nikmati pengalaman lebih cepat & lancar.

Kembali ke Bab 3
BAB 3 MAQOLAH 8

Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 3 Maqolah 8

 

(وَ) الْمَقَالَةُ الثَّامِنَةُ (عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) وَاسْمُهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَخْرٍ (أَنَّهُ قَالَ) قَالَ النَّبِيُّ : (“ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ) أَيْ مُخَلِّصَاتٌ لِصَاحِبِهَا مِنَ الْعَذَابِ (وَثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ) أَيْ مُوقِعَاتٌ لِفَاعِلِهَا فِي الْهَلَاكِ (وَثَلَاثُ دَرَجَاتٍ) أَيْ مَنَازِلُ فِي الْآخِرَةِ (وَثَلَاثُ كَفَّارَاتٍ) لِذُنُوبِ عَامِلِهَا (أَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَخَشْيَةُ اللَّهِ تَعَالَى فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ) قُدِّمَ السِّرُّ لِأَنَّ تَقْوَى اللَّهِ فِيهِ أَعْلَى دَرَجَةً (وَالْقَصْدُ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى) أَيْ التَّوَسُّطُ فِي الْمَعِيشَةِ بِأَنْ لَمْ يُجَاوِزْ فِيهَا الْحَدَّ وَرَضِيَ بِذَلِكَ (وَالْعَدْلُ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ) بِأَنْ يَغْضَبَ لِلَّهِ وَيَرْضَى لِرِضَاهُ.

Maqolah yang ke delapan (Dari Abu Huroiroh Radhiallahu Anhu) Namanya Abu Huroiroh adalah Abdul Rahman bin Sokhr (Sesungguhnya Abu Huroiroh berkata) Telah bersabda Nabi ﷺ : ("Tiga perkara yang menyelamatkan) Maksudnya menyelamatkan bagi ornag yang membawanya dari adzab (Dan tiga perkara yang membinasakan) Maksudnya terjadi bagi orang yang melakukannya dalam kebinasaan (Dan tiga derajat) Maksudnya tempat-tempat di akhirat (Dan tiga penghapus) Untuk menhapus dosa dosa dari orang yang melakukannya (Adapun perkara yang menyelamatkan adalah: Takut kepada Allah dalam kerahasiaan dan dalam keramaian) Didahulukan lafadz السِّرُّ karena sesungguhnya bertakwa kepada Allah dalam kerahasiaan itu adalah setinggi tingginya derajat (Dan bercita cita dalam keadaan faqir dan dalam keadaan kaya) Maksudnya pertengahan dalam masalah kehidupan dengan cara tidak melewati dalam masalah kehidupan pada batasan dan ia ridho terhadap kehidupan. (Dan adil dalam keridhoan dan dalam kemarahan) Dengan cara ia mara karena Allah dan ia ridho karena ridhonya Allah.

(وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتُ فَشُحٌ شَدِيدٌ) أَيْ بُخْلٌ شَدِيدٌ فَلَا يُؤَدِّي مَا عَلَيْهِ مِنْ حَقِّ اللَّهِ وَحَقِّ الْخَلْقِ. وَفِي رِوَايَةٍ: فَشُحٌّ مُطَاعٌ أَيْ بُخْلٌ يُطِيعُهُ الْإِنْسَانُ أَمَّا لَوْ كَانَ الْبُخْلُ مَوْجُودًا فِي النَّفْسِ غَيْرَ مُطَاعٍ فَلَا يَكُونُ مُهْلِكًا لِأَنَّهُ مِنَ الصِّفَاتِ اللَّازِمَةِ لِلنَّفْسِ (وَهَوًى مُتَّبَعٌ) بِأَنْ يَتْبَعَ مَا يَأْمُرُهُ بِهِ هَوَاهُ (وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ) أَيْ نَظْرُهُ إِلَيْهَا بِعَيْنِ الْكَمَالِ مَعَ نِسْيَانِ نِعْمَةِ اللَّهِ تَعَالَى وَمَعَ الْأَمْنِ مِنْ زَوَالِهَا .

(Adapun perkara yang membinasakan adalah pelit yang keterlaluan) Maksudnya pelit yang keterlaluan ia tidak menunaikan suatu perkara yang wajib atasnya dari hak Allah dan hak makhluk. Dalam suatu riwayat: Pelit yang diikuti maksudnya pelit yang mengikuti padanya para manusia. Adapaun jika terbukti sifat pelit yang ada dalam dirinya tidak diikuti maka sifat pelit itu tidak akan menjadi hal yang membinasakan karena sesungguhnya sifat pelit adalah sebagian dari sifat yang lazim bagi diri (Dan keinginan yang diikuti) Dengan cara ia mengikuti perkara yang memerintah kepada dirinya atas perkara itu keinginannya (Dan ujubnya seseorang pada dirinya sendiri) Maksudnya melihatnya ia pada dirinya sendiri dengan pandangan kesempurnaan sambil melupakan nikmat dari Allah dan sambil merasa aman dari hilangnya nikmat itu.

(وَأَمَّا الدَّرَجَاتُ فَإِفْشَاءُ السَّلَامِ) أَيْ إِظْهَارُ السَّلَامِ بَيْنَ النَّاسِ بِأَنْ تُسَلِّمَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَهُ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْهُ (وَإِطْعَامُ الطَّعَامِ) لِلضَّيْفِ وَالْجَائِعِ (وَالصَّلَاةُ بِاللَّيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ) أَيْ التَّهَجُّدُ فِي جَوْفِ اللَّيْلِ حَالَ غَفْلَةِ النَّاسِ فِي لَذَّةِ النَّوْمِ.

(Adapun derajat adalah menyebarkan salam) Maksudnya menampakkan salam di antara manusia dengan cara mengucapkan salam kepada orang yang ia kenal dan kepada orang yang tidak ia kenal (Dan memberi makanan) Kepada tamu dan kepada orang yang lapar (Dan Sholat di waktu malam sedangkan manusia tertidur) Maksudnya sholat tahajud di tengah malam dalam keadaan lengahnya manusia sebab nikmatnya tidur.

(وَأَمَّا الْكَفَّارَاتُ) أَيْ الَّتِي عَادَتُهَا أَنْ تَمْحُوَ الْخَطِيئَةَ (فَإِسْبَاغُ الْوُضُوءِ فِي السَّبَرَاتِ) بِفَتْحَتَيْنِ جَمْعُ سَبْرَةٍ بِفَتْحٍ فَسُكُونٍ أَيْ إِتْمَامُ الْوُضُوءِ فِي وَقْتِ شِدَّةِ الْبَرْدِ بِأَنْ يَأْتِيَ بِسُنَنِهِ (وَنَقْلُ الْأَقْدَامِ إِلَى الْجَمَاعَاتِ) أَيْ إِلَى الصَّلَاةِ مَعَ الْجَمَاعَةِ (وَانْتِظَارُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الصَّلَاةِ) لِيُصَلِّيَهَا فِى الْمَسْجِدِ وَمِثْلُهُ انْتِظَارُ كُلِّ خَيْرٍ.

(Adapun perkara yang menghapus dosa) Maksudnya yang kebiasaannya menghapus pada kesalahan (Menyempurnakan wudhu disaat dingin) Dengan memfathahkan keduanya Jamak dari lafadz سَبْرَةٍ dengan membaca fathah kemudian sukun. Maksudnya menyempurnakan wudhu di waktu yang sangat dingin dengan mendatangkan sunah-sunah wudhu (Dan melangkahkan kaki untuk berjamaah) Maksudnya untuk melaksanakan sholat sambil berjamaah (Dan menunggu sholat sesudah sholat) sehingga ia bisa melaksanakan sholat berjamaah di masjid dan yang seumpama dari menggu sholat sesudah sholat adalah menunggu setiap kebaikan.

Ingin Berbagi Kebaikan?

Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.

Lihat Program Donasi

Bagikan Kebaikan