Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 3 Maqolah 1 - Ayobuatbaik
App Icon

Ayobuatbaik App

Nikmati pengalaman lebih cepat & lancar.

Kembali ke Bab 3
BAB 3 MAQOLAH 1

Terjemah Kitab Nashaihul Ibad Bab 3 Maqolah 1

الْمَقَالَةُ الْأُولَى (رُوِيَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: مَنْ أَصْبَحَ) أَيْ دَخَلَ فِي وَقْتِ الصَّبَاحِ (وَهُوَ يَشْكُوْ) إِلَى النَّاسِ (ضِيْقَ الْمَعَاشِ فَكَأَنَّمَا يَشْكُوْ رَبَّهُ) وَالشِّكَايَةُ لَا تَلِيْقُ إلَّا إلَى اللّٰهِ، فَإِنَّهَا مِنْ جُمْلَةِ الدُّعَاءِ.

Maqolah yang pertama (Diriwayatkan dari Nabi ﷺ sesungguhnya Nabi ﷺ telah bersabda : Barang siapa masuk waktu subuh) Maksudnya masuk di waktu subuh (Dan ia mengeluh) Kepada manusia (Tentang kesempitan hidup maka seakan akan ia mengeluh kepada tuhannya) Sedangkan mengeluh tidaklah layak kecuali kepada Allah karena sesungguhnya mengeluh adalah sebagian dari jumlah doa.

أَمَّا الشِّكَايَةُ إلَى النَّاسِ فَهِيَ مِنْ عَلَامَاتِ عَدَمِ الرِّضَا بِقِسْمَةِ اللّٰهِ تَعَالَى لَهُ، كَمَا رُوِيَ عَنْ عَبْدِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَلَا أُعَلِّمُكُمُ الْكَلِمَاتِ الَّتِيْ تَكَلَّمَ بِهَا مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ حِيْنَ جَاوَزَ الْبَحْرَ مَعَ بَنِيْ إسْرَائِيْلَ؟"، فَقُلْنَا بَلَى يَا رَسُولَ اللّٰهِ ، قَالَ : قُوْلُوْا اَللّٰهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ وَإِلَيْكَ الْمُشْتَكَى وَأَنْتَ الْمُسْتَعَانُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّٰهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. قَالَ الْأَعْمَشُ فَمَا تَرَكْتُهُنَّ مُنْذُ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ شَقِيْقِيْ اَلْأَسَدِيِّ الْكُوْفِيِّ, وَهُوَ عَنْ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ.

Adapun mengeluh kepada manusia maka itu adalah tanda tidak adanya ridho terhadap bagian dari Allah Ta’ala untuknya. Sebagai mana telah diriwayatkan dari abdullah bin Mas’ud beliau berkata : Telah bersabda Rasulullahi :“Apakah tidak aku memberitahukan kepada kalian beberapa kalimat yang telah berkata dengan kalimat itu nabi musa alaihissalam ketika ia melintasi lautan bersama bani israil ?” Maka kami berkata tentu wahai Rasulullah, Rasulullah ﷺ bersabda : “Ucapkanlah oleh kalian Ya Allah hanya milikmu segala puji dan hanya kepadamulah tempat mengeluh dan kamu adalah yang dimintai pertolongan. Tiada daya dan tiada upaya kecuali dengan pertolongan Allah yang maha luhur dan agung.” Telah berkata A’mas maka aku tidak pernah meninggalkan doa itu sejak aku mendengar kalimat itu dari saudara kandungku Asadi bangsa kufi, dan A’mas menerimanya dari Abdullah Radhiallahu Anhu.

قَالَ الْأَعْمَشُ أَتَانِي آتٍ فِى الْمَنَامِ فَقَالَ: يَا سُلَيْمَانُ زِدْ فِى هٰذِهِ الْكَلِمَاتِ وَنَسْتَعِيْنُكَ عَلَى فَسَادٍ فِيْنَا، وَنَسْأَلُكَ صَلَاحَ أَمْرِنَا كُلِّهِ.

Telah berkata A’mas telah datang kepadaku orang yang datang dalam mimpi kemudian ia berkata : Wahai Sulaiman tambahkanlah pada kalimat ini. Aku meminta pertolongan kepadamu atas kerusakan dalam diri kami, dan kami meminta kepadamu atas keperluan urusan kami semua seluruhnya.

(وَمَنْ أَصْبَحَ) أَيْ دَخَلَ فِى الصَّبَاحِ (لِأُمُوْرِ الدُّنْيَا حَزِينًا فَقَدْ أَصْبَحَ سَاخِطًا عَلَى اللّٰهِ) وَالْمَعْنَى مَنْ حَزِنَ عَلَى أُمُوْرِ الدُّنْيَا فَقَدْ غَضِبَ عَلَى اللّٰهِ، لِأَنَّهُ لَمْ يَرْضَ بِقَضَاءِ اللّٰهِ وَلَمْ يَصْبِرْ عَلَى بَلَائِهِ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِقَدَرِهِ لِأَنَّ كُلَّ مَا وَقَعَ فِي الدُّنْيَا فَهُوَ بِقَضَاءِ اللّٰهِ تَعَالَى وَقَدَرِهِ (وَمَنْ تَوَاضَعَ لِغَنِيٍّ لِغِنَاهُ فَقَدْ ذَهَبَ ثُلُثَا دِيْنِهِ) أَيْ لِأَنَّ الشَّرِيْعَةَ أَنْ يَكُوْنَ تَعْظِيْمُ النَّاسِ لِأَجْلِ صَلَاحِهِ وَلِأَجْلِ عِلْمِهِ دُوْنَ التَّعْظِيْمِ لِأَجْلِ مَالِهِ، فَإِنَّ مَنْ أَكْرَمَ الْمَالَ أَهَانَ الْعِلْمَ وَالصَّلَاحَ.

(Dan barang siapa masuk waktu subuh) Maksudnya masuk di waktu subuh (Karena urusan dunia seraya mengeluh maka sungguh ia telah masuk waktu subuh seraya murka kepada Allah) Makna orang yang mengeluh atas urusan dunia maka sungguh ia telah murka kepada Allah, karena sesungguhnya ia tidak ridho atas qodho Allah dan ia tidak bersabar atas cobaannya dan ia tidak beriman atas kodarnya karena sesungguhnya setiap perkara yang terjadi di dunia maka setiap perkara yang terjadi itu sebab qodho dari Allah dan sebab qodar dari Allah (Dan barang siap merendah kepada orang kaya karena kekayaan orang itu maka sungguh telah hilang dua pertiga agamanya) Maksudnya karena sesungguhnya syariat itu mengagungkan manusia karena kesholehannya dan karena keilmuannya bukan mengagungkan karena hartanya. Sungguh orang yang memuliakan harta ia telah merendahkan ilmu dan kesholehan.

قَالَ سَيِّدِيْ عَبْدُ الْقَادِرِ الْجِيلَانِيُّ قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ: لَا بُدَّ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ فِي سَائِرِ أَحْوَالِهِ مِنْ ثَلَاثَةِ أَشْيَاءَ أَمْرٍ يَمْتَثِلُهُ وَنَهْيٍ يَجْتَنِبُهُ وَقَدَرٍ يَرْضَى بِهِ، فَأَقَلُّ حَالَاتِ الْمُؤْمِنِ لَا يَخْلُوْ فِيْهَا مِنْ أَحَدِ هَذِهِ الْأَشْيَاءِ الثَّلَاثَةِ، فَيَنْبَغِي لَهُ أَنْ يُلْزِمَ هَمَّهَا قَلْبَهُ وَيُحَدِّثَ بِهَا نَفْسَهُ وَيَأْخُذَ الْجَوَارِحَ بِهَا فِي سَائِرِ أَحْوَالِهِ اهْ.

Telah berkata tuanku Abdul Qodir Al-Jailani Qoddasallahu Sirrohu: Tidak boleh tidak bagi setiap orang mu’min dalam setiap keadaannya dari tiga perkara: Yang pertama perintah yang ia melaksanakannya yang kedua larangan yang ia menjauhinya yang ketiga qodar yang ia ridho padanya. Maka paling sedikit keadaan orang mu’min adalah tidak kosong dalam keadaan itu salah satu dari tiga perkara ini, maka penting bagi orang mu’min mengharuskan dirinya mementingkan tiga perkara ini ke dalam hatinya dan membisikkan tentang tiga perkara ini ke dalam hatinya dan membawa anggota badan bersama tiga perkara ini dalam setiap keadaannya.

Ingin Berbagi Kebaikan?

Dukung program-program sosial dan dakwah kami. Setiap donasi adalah investasi akhirat.

Lihat Program Donasi

Bagikan Kebaikan